Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, resmi merombak petinggi militernya dengan menunjuk dua jenderal baru. Salah satunya adalah Ahmad Vahidi, yang kini didapuk sebagai Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Keputusan penting ini dirilis lewat pernyataan resmi di situs web mereka pada Senin (10/8).
Tak hanya Vahidi, Khamenei juga menunjuk Ali Abdollahi sebagai kepala angkatan bersenjata Iran yang baru. “Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi juga telah ditunjuk sebagai Panglima Korps Garda Revolusi Islam dengan pangkat mayor jenderal,” demikian bunyi pernyataan resmi Mojtaba Khamenei.
Di kancah militer Iran, nama Vahidi jelas bukan orang baru. Lahir di Shiraz pada 1958 dengan nama asli Vahid Shahcheraghi, ia merintis karier di IRGC sejak 1980. Tak lama setelah bergabung, ia langsung terjun ke medan Perang Iran-Irak.
Selama perang tersebut, ia bergerak di bidang intelijen militer dan ikut membidani lahirnya unit operasi intelijen IRGC. Kiprahnya terus menanjak hingga pada 1988, ia ditunjuk sebagai komandan pertama Pasukan Quds, unit elite untuk operasi luar negeri IRGC.
Rekam Jejak Politik dan Militer
Karier politik Vahidi juga terbilang mentereng di pemerintahan. Di bawah Presiden Mahmoud Ahmadinejad (2009-2013), ia menjabat sebagai menteri pertahanan yang sangat fokus pada pengembangan rudal dan drone domestik. Kantor Berita Fars bahkan sampai menyebut era kepemimpinannya sebagai “zaman keemasan pencegahan defensif Iran.”
Lepas dari jabatan menteri, ia dipercaya memimpin Universitas Pertahanan Nasional Tertinggi. Hingga pada 2021, Presiden Ebrahim Raisi menunjuknya untuk mengisi posisi menteri dalam negeri.
Di panggung politik, Vahidi dikenal sebagai tokoh konservatif garis keras dari faksi “prinsipis”. Pendiriannya sangat kokoh dalam menyuarakan kemandirian militer negara. Ia juga konsisten menentang keterlibatan pihak Barat dalam urusan Iran.
Pengaruh kuat Vahidi pun ikut merumuskan dua pilar pertahanan Iran saat ini, yakni menguasai Selat Hormuz demi menekan pasar energi Barat serta menolak keras menyerahkan cadangan uranium mereka kepada Amerika Serikat.


