Berita Warga Surabaya Gagal Lihat Gerhana Bulan Total karena Langit Mendung

by
Berita Warga Surabaya Gagal Lihat Gerhana Bulan Total karena Langit Mendung


Surabaya, Pahami.id

Gejala Gerhana bulan purnama yang terjadi pada Selasa (3/3) gagal terdeteksi di langit Surabaya, Jawa Timur. Kondisi cuaca dan tutupan awan yang tebal menjadi penyebab utama warga tidak bisa menikmati fenomena Blood Moon secara visual.

Dosen Astronomi Fakultas Agama Islam dan Peradaban Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) Andi Siti Maryam mengatakan, menurut perhitungan astronomi, seharusnya bulan berada pada fase totalnya tepat saat Maghrib tiba.

“Harusnya saat magrib karena bulan purnama. Itu terbit bersamaan dengan terbenamnya matahari. Jadi, kalau kita berbuka, seharusnya bulan terbit di timur,” kata Andi.


Berdasarkan data pengamatan, seluruh fase gerhana bulan ini berlangsung hampir satu jam, dimulai pada pukul 18.04 WIB dan berakhir pada pukul 19.02 WIB. Saat langit cerah, bulan akan memancarkan rona kemerahan pekat.

Kalau seluruh fase kelihatannya merah semua, ujarnya.

Setelah melewati puncak total pada pukul 19.02 WIB, gerhana kemudian memasuki fase sebagian sebelum akhirnya berakhir seluruhnya pada pukul 20.17 WIB.

Meski tim pengamat telah bersiap, langit di atas Kota Pahlawan tetap tidak bersahabat sejak matahari terbenam hingga fenomena berakhir.

“Sampai saat ini belum terlihat. Tadi ada kerlap-kerlip cahaya di posisi bulan, tapi masih belum terlihat jelas,” jelas Andi.

Pemantauan terfokus di Kampus Umsura juga memastikan adanya awan menutupi seluruh area observasi.

“Di Surabaya khususnya di Universitas Muhammadiyah Surabaya kali ini tidak terlihat karena awannya cukup tebal,” ujarnya.

Dalam upaya observasi tersebut, tim ahli sebenarnya telah menyiapkan alat berupa teleskop refraktor berdiameter 71 mm yang dipadukan dengan kamera DSLR untuk menangkap detail permukaan bulan.

Refraktor 71 mm sebenarnya cukup mampu melihat detail bulan termasuk kawah dan perbedaan terang dan gelap di permukaannya, namun karena tertutup awan, pengamatannya kurang maksimal, tutupnya.

(frd/fra)