Jakarta, Pahami.id —
Wakil Walikota Surabaya dan Ketua DPC PDI Perjuangan (PDIP) Kota Surabaya, Armujimenolak tegas wacana pemilihan bupati (Pilkada) melalui DPRD.
Ia menilai hal tersebut merupakan kemunduran demokrasi dan bertentangan dengan prinsip kedaulatan rakyat.
Armuji mengatakan, pemilihan bupati tetap harus dilakukan langsung oleh rakyat, bukan dilakukan di ruang tertutup oleh elite politik.
“Kalau bupati dipilih lewat DPRD, calonnya tidak perlu ke desa, ke kelurahan, ke RW dan RT. Cukup lobi, debat di ruang tertutup, lalu pemungutan suara. Selesai,” kata Armuji dalam keterangan tertulisnya, Kamis (8/1).
Sebagai pelaku sejarah yang pernah menjadi anggota DPRD Surabaya periode 1999-2004, Armuji mengaku pernah merasakan sendiri dampak dari sistem pemilihan bupati melalui DPRD.
Menurutnya, mekanisme pilkada secara tidak langsung membuat hubungan pemimpin dan rakyat semakin renggang.
Berbeda dengan pilkada langsung, calon kepala daerah harus turun lapangan mendengarkan keluh kesah warga dan menyampaikan gagasan secara terbuka. Proses ini, kata Armuji, membangun hubungan moral dan tanggung jawab antara pemimpin dan rakyat.
“Kalau DPRD terpilih, masyarakat merasa tidak punya pemimpin. Kepala daerah juga merasa cukup bertanggung jawab kepada dewan melalui laporan tahunan. Ini berbahaya bagi demokrasi,” ujarnya.
Armuji juga menilai wacana pemilu daerah melalui DPRD tidak sesuai dengan sistem demokrasi yang ada, mengingat Presiden, DPR RI, dan DPRD dari tingkat provinsi hingga kabupaten/kota semuanya dipilih langsung oleh rakyat.
“Ini kontradiktif. DPR dipilih langsung oleh rakyat, tapi kepala daerah mau dipilih DPR? Ini bukan kemajuan, tapi kemunduran demokrasi,” ujarnya.
Di mata Armuji, sistem pemilihan tidak langsung atau melalui DPRD juga mirip dengan praktik politik di masa Orde Baru, di mana pemimpin daerah dengan mudah bisa digulingkan melalui mekanisme politik di majelis.
“Sekarang berbeda. Pemimpin daerah yang dipilih rakyat hanya bisa diberhentikan oleh rakyat atau karena alasan hukum yang jelas, misalnya karena korupsi atau meninggal dunia. Itu lebih adil dan demokratis,” jelas Armuji.
Menanggapi alasan pilkada terpapar langsung politik uang, Armuji justru menilai praktik tersebut masih bisa terjadi, bahkan berpotensi lebih rawan jika pemilu dilakukan melalui DPRD.
“Kalau DPRD terpilih, politik uang masih terjadi. Lebih mudah perhitungannya, karena yang mengambil keputusan hanya sekitar 50 orang (anggota DPRD). Transaksi akan lebih tertutup dan terbuka,” ujarnya.
Menurutnya, sistem pemilu DPRD justru membuka ruang besar bagi praktik politik transaksional karena lingkaran pemilih yang sempit dan tidak transparan.
DPC PDIP Kota Surabaya, lanjut Armuji, akan tetap tegak pada prinsip kedaulatan rakyat dan menolak segala bentuk upaya yang berujung pada kemunduran demokrasi.
Posisi kita jelas, pemimpin daerah harus dipilih langsung oleh rakyat. Rakyat Surabaya ingin bertemu, mengevaluasi, dan memutuskan pemimpinnya sendiri. Demokrasi tidak bisa diputarbalikkan, tutupnya.
(frd/anak)

