
Jakarta, Pahami.id —
“Bangsa Bumiputera tidak bergantung pada negara asing”
Begitulah judul buku itu Nahratud’dhargam ditulis oleh ulama besar asal Sukabumi, Jawa Barat, Kiai Haji Ahmad Sanusi.
Perjuangan para ulama progresif yang juga tergabung dalam Badan Penelitian Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) kemudian diberi judul. PPahlawan nasional oleh negara pada tanggal 7 November 2022 melalui Keputusan Presiden (Keppres) nomor 96/TK/2022.
Mengutip dari sebuah buku Mengungkap Sejarah Wacana Gerakan Islam di Indonesia (1996), Ahmad Sanusi disebut-sebut sebagai salah satu tokoh reformasi Islam di Indonesia–bersama HOS Cokroaminoto, Agus Salim, dan Abdul Muis.
Akademisi Islam Yayan Suryana dalam buku tersebut Tradisionalisme dan Modernisme Islam (2013), menulis bahwa nama Haji Ahmad Sanusi mungkin belum setenar nama ulama pejuang lainnya di abad ke-20.
“Haji Ahmad Sanusi kalah terkenal dibandingkan Kiai Haji Zainal Mustoda dari Singapura yang memberontak terhadap pemerintah pendudukan Jepang,” demikian kutipan buku tersebut.
Padahal namanya tercatat sebagai salah satu tokoh Indonesia di Pulau Jawa menurut pemerintahan pendudukan Jepang.
Anak-anak Sukabumi, hafal Al-Quran sejak kecil
Sanusi lahir pada tanggal 18 September 1888 di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Dia adalah anak ketiga dari delapan bersaudara. Ia lahir dari istri pertama KH Abdurrahim, Empok.
Pendidikan awal Sanusi diberikan langsung oleh orang tuanya yang merupakan pendiri Pondok Pesantren Cantayan.
Ia menjadi Hafidz atau penghafal Al-Quran ketika usianya baru 12 tahun. Setelah menikah, tepatnya pada tahun 1910, Sanusi dan istrinya menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Mereka kemudian tinggal di tanah suci selama 5 tahun untuk menambah ilmu dan bertemu dengan ulama internasional dan nasional.
Di tanah suci, ia terlibat dalam jaringan ulama, khususnya ulama era liberal seperti Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Sayid Rasyid Ridho. Saat masih di Mekkah, Sanusi bergabung dengan Partai Masyarakat Islam Indonesia. Artinya, ia juga terlibat dalam jaringan ulama di Asia Tenggara.
Sepulangnya dari tanah suci, tepatnya pada tahun 1915, ia menjadi guru di Pondok Pesantren Cantayan selama 6 tahun. Kemudian ia mendirikan Pondok Pesantren Genteng.
Perjuangan Sanusi juga tidak berhenti pada agama saja. Ia juga terlibat langsung dalam perjuangan bangsa Indonesia pada masa penjajahan Belanda.
Karena kekhawatiran akan kedalaman ilmu dan jangkauan aktivitasnya, sejak tahun 1927, pemerintah kolonial Belanda mengasingkan Sanusi ke Batavia Cnetum.
Selama pengasingannya, dia mengganti namanya Hindia Belanda menjadi orang Indonesia melalui majalah yang dikelolanya sendiri, Hidjatoel Islamijjah.
Ia juga menunjukkan kontribusinya di bidang sosial saat mendirikannya Al Ittihadijatoel Islamiyah. Organisasi ini sempat dibekukan, namun aktif kembali dengan berganti nama menjadi Persatoean Oemat Islam Indonesia (POII).
POII yang dibuat oleh Sanusi kemudian bergabung dengan organisasi lain bernama Persatoean Oemat Islam (POI) yang didirikan oleh KH Abdul Salim. Bergabungnya kedua organisasi ini menjadi cikal bakal berdirinya Persatuan Umat Islam (PUI).
BPUPKI
Selain itu, dalam perjuangannya memerdekakan tanah air, ia juga tergabung dalam Badan Penelitian Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).
Perjuangannya tidak berhenti sampai di situ, ia juga membentuk Pembela Tanah Air (PETA) di wilayah Karesidenan Bogor, Badan Keamanan Rakyat (BKR) Sukabumi, dan Komite Nasional Daerah Indonesia (KNID) Sukabumi.
Sanusi meninggal pada tahun 1950, tepatnya ketika ia sudah cukup umur. 61 tahun.
Berkat jasanya, Pemerintah Sukabumi menjadikan salah satu jalan tersebut diberi nama menurut namanya. Tepatnya di jalan yang menghubungkan Jalan Cigunung dengan Jalan Degung.
Artikel ini merupakan rangkaian kisah para cendekiawan, tokoh dan ulama yang menjadi Pahlawan Nasional Indonesia yang dimuat CNNIndonesia.com pada Ramadhan 1447 Hijriah.
(keluarga/anak-anak)
