Berita Trump Tak Mau Kompromi, Negosiasi Damai AS-Iran Buntu

by
Berita Trump Tak Mau Kompromi, Negosiasi Damai AS-Iran Buntu


Jakarta, Pahami.id

Negosiasi perjanjian damai antara Amerika Serikat dan Iran mengakhiri konflik masih menemui jalan buntu. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bersikeras bahwa dia hanya akan menandatangani perjanjian itu jika Iran memenuhi semua persyaratan mutlak yang dia usulkan.

Gedung Putih telah memberi isyarat bahwa Trump hampir mengambil keputusan mengenai kemungkinan kesepakatan, meskipun Teheran menegaskan masih belum ada “kesepakatan akhir” untuk menyelesaikan konflik di Timur Tengah.


Sejumlah sumber di pemerintahan AS mengatakan kesepakatan itu masih menunggu persetujuan Trump setelah berminggu-minggu negosiasi yang sulit mengenai konflik yang melanda Timur Tengah dan mengguncang perekonomian global.

“Presiden Trump hanya akan membuat kesepakatan yang baik bagi Amerika dan konsisten dengan prinsip-prinsipnya yang tidak kenal kompromi,” kata seorang pejabat Gedung Putih usai pertemuan dua jam di Gedung Putih, Jumat (29/5).

Pejabat itu menambahkan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, seperti yang disarankan Trump.

Trump mengumumkan pertemuan di Gedung Putih melalui media sosial dan menegaskan kembali tuntutannya agar Iran tidak mengembangkan senjata nuklir dan membuka kembali Selat Hormuz. Dalam postingannya, Trump juga mengatakan bahwa Iran akan membersihkan ranjau di Selat Hormuz dan mengakhiri jalur bebas pulsa.

Sebagai imbalannya, AS akan mencabut sanksi terhadap pelabuhan Iran. Trump juga mengatakan kedua negara akan berkoordinasi untuk menghancurkan uranium Iran yang diperkaya, dan menekankan bahwa tidak akan ada pertukaran uang sampai pemberitahuan lebih lanjut.

Iran langsung membantah pernyataan Trump. Media pemerintah Iran menyebut pengungkapan Trump sebagai “campuran kebenaran dan kebohongan.”

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baqaei membenarkan saat ini belum ada negosiasi yang dilakukan terkait program nuklir Iran. Dia juga menyatakan bahwa Iran telah meninggalkan bahasa paksa 47 tahun yang lalu.

“Belum ada kesepakatan akhir yang dicapai,” kata Baqaei.

Kendati demikian, dia memastikan komunikasi kedua negara masih terus berjalan.

Kantor berita Iran, LeluconDiberitakan juga, sumber di Teheran juga menyatakan, klausul pembukaan Selat Hormuz tanpa pembayaran tol tidak termasuk dalam perjanjian. Klaim Trump terkait penghancuran bahan nuklir Iran juga disebut-sebut sama sekali tidak berdasar.

Di sisi lain, sumber tersebut menyebutkan bahwa Iran menuntut segera pelepasan aset mereka yang dibekukan senilai US$12 miliar atau sekitar Rp. 213 triliun, sebelum melanjutkan ke tahap perundingan berikutnya.

Sebaliknya, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan kesediaan negaranya untuk mencapai “kerangka kerja yang bermartabat” untuk mengakhiri perang. Hal tersebut disampaikan Pezeshkian dalam sambungan telepon dengan Emir Qatar, seperti dilansir kantor berita resmi Iran, IRNA.

Hingga saat ini, perjanjian resmi tersebut masih ditangguhkan menunggu persetujuan Trump setelah berbulan-bulan melakukan negosiasi. Konflik ini telah menyebar ke seluruh Timur Tengah dan berdampak besar terhadap perekonomian global.

(dmi)


Menambahkan

sebagai pilihan
sumber di Google