Berita Trump Ngebet Gulingkan Khamenei di Iran, tapi Ragu Dukung Pahlavi

by
Berita Trump Ngebet Gulingkan Khamenei di Iran, tapi Ragu Dukung Pahlavi


Jakarta, Pahami.id

Presiden Amerika Serikat Donald Trump ragu-ragu untuk memberikan dukungan kepada anak-anak mendiang Mohammad Shah Reza Pahlevi untuk mengambil alih kekuasaan Iran dari pemerintahan Ayatollah Ali Khamenei.

Saat memimpin Iran, Shah Pahlavi memiliki hubungan dekat dengan Amerika Serikat. Namun, pada tahun 1979 ia digulingkan dalam pemberontakan yang disebut Revolusi Islam.


“Dia [Reza Pahlavi] terlihat sangat bagus, tapi saya tidak tahu apakah dia akan diterima di negaranya,” kata Trump dalam wawancara eksklusif dengan Reuters di Gedung Putih, Rabu (14/1).

Dia kemudian berkata, “Dan kita belum sampai pada titik itu. Saya tidak tahu apakah negara ini akan menerima kepemimpinannya atau tidak, dan tentu saja jika mereka menerimanya, saya tidak keberatan.”

Komentar tersebut lebih lanjut menunjukkan kekhawatiran mengenai kemampuan Pahlavi untuk memimpin Iran.

Trump pun mengaku belum punya rencana bertemu dengan putra mendiang Shah Pahlavi.

Pahlavi kini tinggal di pengasingan di Amerika Serikat setelah ayahnya digulingkan. Sejak itu, ia kerap menyuarakan penentangannya terhadap pemerintahan Khamenei.

Baru-baru ini, dia juga meminta masyarakat Iran untuk terus berdemonstrasi dan meraih kebebasan yang layak mereka dapatkan. Baru-baru ini, dia meminta tentara untuk membelot atas perintah pemimpin tertinggi negara tersebut.

Meskipun ia sangat menentang Iran dan tampak mendukung rakyatnya, ia juga mempertahankan hubungan dengan Israel.

Pada tahun 2023, Pahlavi mengunjungi Israel dan bertemu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Kunjungan ini memicu kecaman keras dari masyarakat Iran, terutama dari kalangan oposisi. Ia bahkan dicap sebagai pengkhianat.

Sejak akhir Desember lalu, Iran dilanda gejolak akibat demonstrasi besar-besaran. Situasi semakin kacau setelah pihak berwenang mengumumkan akan mengambil tindakan tegas terhadap para pengunjuk rasa dan memutus akses internet secara nasional.

Di tengah situasi tersebut, Trump berkali-kali meminta AS turun tangan dan menyerang Iran dengan dalih membela rakyat negara tersebut.

(isa/rds)