Berita Seperti RI, Negara di Pasifik Ini Ganti Nama buat Hapus Jejak Kolonial

by
Berita Seperti RI, Negara di Pasifik Ini Ganti Nama buat Hapus Jejak Kolonial


Jakarta, Pahami.id

Sebuah negara kepulauan di Samudera Pasifik, Naurumengadakan referendum untuk menghapus nama resminya untuk menghilangkan dampak kolonialisme di sana.

Dalam referendum tersebut, masyarakat memilih tetap menggunakan nama resmi negara ‘Nauru’ atau mengubahnya menjadi ‘Naoero’ sesuai bahasa setempat.

“Untuk benar-benar menghormati warisan budaya bangsa, bahasa dan identitas kita,” kata Presiden Nauru, David Adeang dalam keterangan resminya terkait tawaran perubahan menjadi ‘Naoero’, Selasa (12/5) sore, dikutip dari AFP.


Bahasa ibu negara kecil ini adalah ‘Dorerin Naoero’ yang dituturkan oleh mayoritas penduduknya yang berjumlah 10 ribu orang.

“…’Nauru’ muncul karena ‘Naoero’ tidak dapat diucapkan dengan benar dalam bahasa asing, dan diubah bukan karena pilihan kami, namun demi kenyamanan,” kata pemerintah Nauruan dalam sebuah pernyataan yang menjelaskan usulan perubahan nama negara tersebut.

Perubahan nama ini akan tercermin di seluruh negeri, mulai dari penggantian nama pesawat dan kapal nasional, hingga identitas resmi di tingkat regional dan internasional, termasuk di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan di seluruh catatan dan simbol resmi negara, lanjutnya.

Selanjutnya, Pemerintah Nauru harus mengadakan referendum karena perubahan nama memerlukan perubahan konstitusi negara.

Catatan kolonial Nauru termasuk Jerman yang mengklaim Nauru sebagai protektorat dari akhir tahun 1880-an hingga Perang Dunia I. Pada akhir Perang Dunia I, pulau itu direbut oleh pasukan Australia.

Belakangan, Australia mengelolanya bersama Inggris dan Selandia Baru.

Nauru akhirnya mencapai kemerdekaan pada tahun 1968.

Nauru merupakan salah satu negara terkecil di dunia, dengan luas daratan hanya 20 kilometer persegi.

Menurut penilaian Bank Dunia baru-baru ini, Nauru sangat rentan terhadap perubahan iklim dan memiliki tingkat pengangguran dan masalah kesehatan yang tinggi. Sebelumnya, cadangan fosfat yang sangat halus – bahan utama dalam pupuk – telah menjadikan Nauru salah satu tempat terkaya per kapita di planet ini.

Namun, pasokan ini telah lama habis, dan para peneliti kini memperkirakan bahwa 80 persen wilayah Nauru tidak dapat dihuni karena pertambangan.

Dalam sejarah dunia, beberapa negara mengganti nama resminya untuk menghilangkan dampak kolonialisme, termasuk Indonesia.

Ketika Indonesia masih dijajah Belanda disebut Hindia Belanda. Para Founding Father di era pergerakan dan perjuangan kemerdekaan mendorong nama Indonesia, salah satunya melalui Sumpah Pemuda pada tahun 1928. Nama tersebut kemudian resmi menjadi Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Selain Indonesia, negara tetangga di Asia Tenggara juga berganti nama untuk menghilangkan dampak kolonialisme. Beberapa di antaranya, Myanmar yang masih berada di bawah pengaruh kolonialisme Inggris disebut Burma,

Kemudian Sri Lanka melepaskan nama kolonialisme Inggris, Ceylon. Kemudian Burkina Faso yang dulu bernama Volta Atas masih berada di bawah pendudukan Prancis.

Selain itu, ada juga negara yang mengganti namanya untuk menghindari kebingungan atau konotasi negatif.

Baru-baru ini, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengubah nama internasional resmi negaranya menjadi Turkiye, dari Turki. Erdogan mengganti namanya untuk menghindari konotasi negatif yang terkait dengan ‘Turki’, yang dalam bahasa Inggris berarti ‘kalkun’.

Ada juga Eswatini yang awalnya bernama Swaziland. Negara Afrika tersebut diganti namanya menjadi bahasa aslinya, juga untuk menghindari kebingungan internasional dengan nama resmi Swiss, yaitu Swiss.

(anak-anak/bac)


Menambahkan

sebagai pilihan
sumber di Google