Jakarta, Pahami.id —
Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah meminta PT Agrinas Pangan Nusantara (Agrinas) membatalkan rencana impor 105 ribu mobil niaga dari India.
Said menilai rencana tersebut berpotensi melemahkan industri otomotif Tanah Air, dan tidak sejalan dengan upaya memperkuat perekonomian dalam negeri. Apalagi pembeliannya akan menggunakan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) dan bersifat multiyears.
Dia mengingatkan, setiap pengeluaran negara harus memperhitungkan manfaat ekonominya bagi industri dalam negeri dan pekerja.
“Aksi korporasi yang bersumber dari dana APBN perlu dipertimbangkan kembali,” kata Said.
Said mengatakan, Presiden Prabowo telah mencanangkan sejumlah program prioritas seperti Pangan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Kampung Merah Putih (KDMP) untuk memajukan perekonomian desa dan memperkuat rantai pasok dalam negeri. Oleh karena itu, kebijakan BUMN harus sejalan dengan arah tersebut.
Menurut dia, rencana impor 105 ribu mobil niaga mencerminkan belum sinkronnya upaya penguatan industri dalam negeri.
Secara khusus, Said menekankan kinerja sektor manufaktur yang dalam beberapa tahun terakhir tumbuh di bawah pertumbuhan produk domestik bruto (PDB). Padahal, sektor manufaktur dinilai strategis untuk mengembangkan hilirisasi sumber daya alam sekaligus menyerap tenaga kerja.
Selain angka pengangguran lulusan yang mencapai satu juta orang, Said juga menyinggung perhitungan Center for Economic and Legal Studies (Celios) yang menyebutkan potensi dampak ekonomi dari rencana impor tersebut, mulai dari potensi tergerusnya PDB hingga Rp39,29 triliun, penurunan pendapatan masyarakat Rp39 triliun, hingga penurunan industri otomotif Rp2,6 triliun hingga surplus Rp2,6 triliun.
Ada pula potensi penurunan pendapatan tenaga kerja di seluruh rantai pasok industri otomotif yang diperkirakan mencapai Rp 17,39 triliun, dan menurunkan penerimaan pajak bersih hingga Rp 240 miliar.
Lebih lanjut, Said mempertanyakan komunikasi PT Agrinas dengan produsen otomotif dalam negeri dan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Ia menyatakan, total 105 ribu unit tersebut hampir setara dengan produksi mobil niaga dalam satu tahun.
“Jika pengadaan dilakukan di dalam negeri maka dapat memulihkan industri otomotif, menyerap tenaga kerja dan menimbulkan multiplier effect bagi perekonomian,” ujarnya.
Said juga menyinggung aspek layanan purna jual, ketersediaan suku cadang, dan jaringan bengkel yang perlu diperhatikan. Katanya, harga beli yang lebih murah belum tentu efisien jika biaya jangka panjangnya lebih tinggi.
Said menekankan, pertimbangan strategisnya bukan hanya soal harga, namun apakah kebijakan tersebut memperkuat rantai pasok industri di Tanah Air.
“Akan lebih bijaksana jika langkah ini tidak hanya dipertimbangkan kembali, bahkan dibatalkan,” pungkas Said.
(rea/rir)

