Berita Rezim Khamenei Iran Musuh Terkuat Israel, Akankah Mudah Ditumbangkan?

by
Berita Rezim Khamenei Iran Musuh Terkuat Israel, Akankah Mudah Ditumbangkan?


Jakarta, Pahami.id

Selain itu Amerika Serikat, Israel adalah negara yang sangat menginginkan pemerintahan otokratis Iran segera tumbang.

Bagi Israel, Iran adalah musuh paling kuat di Timur Tengah, yang dalam banyak hal masih mengalami ketidakstabilan.


Setelah serangan 12 Juli terhadap pangkalan nuklir Iran, Israel akan menghadapi demonstrasi yang diperkirakan akan menggulingkan pemerintah Iran secara perlahan.

Mantan Kepala Badan Intelijen MI6 Inggris John Sawers, dalam Financial Times Juli lalu, memberikan analisis bahwa serangan ke Iran diperkirakan akan melumpuhkan negara para mullah.

“Setelah melakukan serangan sekali, Israel mungkin harus kembali secara berkala untuk ‘memotong rumput’ jika Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir. Serangan belum berakhir dan peningkatan serangan untuk melumpuhkan infrastruktur minyak membawa risiko pembalasan Iran yang lebih luas di Teluk. Namun sejauh ini tampaknya Israel mencapai tujuannya,” kata Sawers.

Tindakan tersebut, kata Sawers, akan membuat masyarakat Iran yang bangga, berpendidikan tinggi, dan berwirausaha merasa frustrasi karena tertinggal jauh dari negara-negara tetangga Arab mereka. Hingga akhirnya, di mata rakyat sendiri, Revolusi Islam mengalami kegagalan yang sangat besar.

Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Perdana Menteri Benjamin Netanyahu ingin rezim Iran digulingkan, katanya.

Tentu saja, ketika demonstrasi besar-besaran terus berkecamuk, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Israel pada Minggu (28/12) mengeluarkan pernyataan bahwa demonstrasi di Iran meletus karena masyarakat sudah muak dengan rezim Khamenei.

“Rakyat Iran sudah muak dengan rezim dan keruntuhan perekonomian,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Israel di akun X berbahasa Persia, Minggu (28/12).

Mantan perdana menteri (PM), menteri Israel, bahkan PM Israel Benjamin Netanyahu juga sibuk menyuarakan dukungannya terhadap rakyat Iran. Dalam pernyataan saat wawancara dengan Newsmax, Netanyahu mengatakan Negara Zionis sepenuhnya bersimpati dengan rakyat Iran.

Katanya, rezim Iran saat ini telah menindas rakyat Teheran yang memiliki masa lalu dan masa depan yang gemilang.

“Jika ada perubahan, itu akan datang dari dalam. Itu tergantung pada rakyat Iran. Kami memahami apa yang mereka alami dan kami sangat bersimpati dengan mereka,” kata Netanyahu seperti dikutip Iran International.

“Rezim tirani ini telah menindas rakyat Iran. Mereka adalah orang-orang hebat, sangat bertalenta dengan masa lalu yang gemilang, dan bisa mempunyai masa depan yang gemilang juga. Namun masa depan ini sedang dibajak oleh preman-preman teologis, para mullah dan Ayatollah yang berada di puncak kekuasaan,” lanjutnya.

Tampaknya pemerintah Iran masih mampu mempertahankan kekuasaannya. Setelah demonstrasi anti pemerintah, kini pengunjuk rasa pro pemerintah berdatangan.

Hal ini terjadi setelah pemerintah Iran pada Minggu (11/01) mengumumkan tiga hari berkabung nasional bagi anggota pasukan keamanan yang tewas selama dua minggu aksi protes.

Pihak berwenang Iran menyebut aksi tersebut sebagai kerusuhan dan memuji para petugas yang tewas sebagai “martir”.

Model kekuasaan Iran, yang terdiri dari kepemimpinan tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, badan eksekutif di bawah Presiden Masoud Pezeshkian, dewan syura dan parlemen, dianggap oleh para analis terlalu kuat untuk digulingkan dari dalam.

Namun, kesulitan ekonomi yang semakin mencekik di Iran, menurut pengamat Timur Tengah Trita Parsi dari Quincy Institute for Responsible Statecraft, mengancam akan membawa Teheran semakin dekat ke jurang keruntuhan rezim.

“Ini adalah situasi ekonomi yang jauh lebih lemah, situasi geopolitik yang jauh lebih buruk yang dihadapi Iran. Perbedaan sikap dalam sistem ini terlihat jelas di berbagai tingkatan,” kata Parsi. Al Jazeera.

Dia mengatakan pemerintah Iran tidak akan mampu mengatasi masalah mendasar yang memicu kerusuhan bahkan jika mereka bisa mengekang demonstrasi, kecuali para pemimpin Iran mencapai kesepakatan untuk mencabut sanksi AS.

“Kita telah mencapai titik di mana jarak antara Amerika Serikat dan Iran, di mana mereka dapat mengabaikannya dan melanjutkan status quo, tidak ada lagi. Sesuatu harus diubah dalam masalah ini,” kata Parsi.

(imf/bac)