Berita Polisi Sebut Pelaku Penganiayaan Petugas SPBU di Jaktim Bukan Aparat

by


Jakarta, Pahami.id

Polda Metro Jaya memastikan pria berinisial JMH adalah pelakunya penganiayaan melawan tiga pekerja Pompa bensin di Cipinang, Pulogadung, Jakarta Timur, bukan pejabat, melainkan warga sipil yang berprofesi sebagai pengusaha.

Pelaku sudah ditangkap dan dipastikan bukan anggota Polri, kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto dalam keterangannya, Selasa (24/2).

Budi mengatakan, pelaku berinisial JMH ditangkap tim gabungan Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Timur dan Satuan Reskrim Polsek Pulogadung di kawasan Rawalumbu, Bekasi Timur pada Selasa.


Selanjutnya, pelaku dibawa ke Polres Metro Jakarta Timur untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Saat ini yang bersangkutan sedang diproses penyidik ​​Polres Metro Jakarta Timur. Kami pastikan kasus ini ditangani secara profesional dan transparan, kata Budi.

Kata Budi, dari hasil pemeriksaan diketahui nomor plat yang digunakan pelaku saat melakukan aksinya merupakan plat palsu.

Nomor polisi yang digunakan pada kendaraan tersebut juga tidak sesuai peruntukannya, ujarnya.

Berdasarkan foto yang diterima, nomor plat yang digunakan pelaku bernomor L-1-XD. Pelat tersebut, kata Budi, bukan diperuntukkan bagi mobil Toyota Vellfire berwarna hitam yang digunakan pelaku.

“Hasil yang sesuai kode batang Tidak sesuai dengan nomor STNK sehingga tidak bisa dilakukan penagihan sesuai ketentuan, kata Budi.

Sebelumnya, tiga pekerja SPBU di Cipinang, Pulogadung, Jakarta Timur diduga dianiaya petugas pada Minggu (22/2) sekitar pukul 22.00 WIB.

Dikutip dari di antaraKetiga pekerja SPBU yang menjadi korban adalah Ahmad Khoirul Anam yang bekerja kurang lebih lima tahun sebagai staf, Lukmanul Hakim seorang pengusaha yang baru bekerja enam bulan setelah menyelesaikan studi vokasi, dan Abud Mahmudin seorang operator yang mengabdi kurang lebih empat tahun.

Khoirul Anam dipukul pada bagian pipi, Lukman dipukul pada rahang kanan, sedangkan Abud dipukul pada bagian bawah mata dan pada pipi dekat mulut hingga giginya dicabut.

Kejadian bermula saat ada pelanggan yang datang untuk mengisi Pertalite. Saat scan barcode, nomor plat kendaraan sudah terdaftar di sistem, namun jenis mobil yang digunakan tidak sesuai dengan data yang tertera.

Sesuai standar operasional prosedur (SOP), petugas kemudian menolak pengisian Pertalite dan memberikan alternatif solusi. Pelanggan diinstruksikan untuk mengisi Pertamax yang tidak menggunakan sistem barcode.

Namun penolakan tersebut disinyalir memicu emosi pelanggan. Terjadi insiden yang berujung pada dugaan kekerasan terhadap tiga pekerja SPBU.

Salah satu korban, Lukmanul Hakim mengatakan, petugas mengaku mobil yang dibawanya milik seorang jenderal.

“Dia bilang, ‘tahukah kamu ini barcode generik? Tahukah kamu ini barcode generik?’ Dia mengatakan itu berkali-kali,” katanya.

(des/dal)