Jakarta, Pahami.id —
Cina telah mengadakan latihan militer skala besar di dekatnya Taiwan pada tanggal 29-30 Desember 2025 bertajuk “Justice Mission 2025”, yang melibatkan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), Angkatan Laut PLA (PLAN), dan Penjaga Pantai Tiongkok.
Dalam latihan tersebut, kapal perang dan pesawat militer Tiongkok dikerahkan di dekat wilayah Jepang, sebuah tindakan yang dipandang sebagai upaya simulasi untuk menutup wilayah sekitar Taiwan dan mengisolasi pulau tersebut dari bantuan luar.
Menurut Stavros Atlamazoglou, seorang jurnalis pertahanan dan veteran angkatan bersenjata Yunani, latihan ini mewakili kemajuan yang signifikan dalam pola operasi militer Tiongkok.
“Latihan ini menunjukkan bagaimana Tiongkok berusaha membentuk pengepungan berlapis di sekitar Taiwan, tidak hanya dari Selat Taiwan, tetapi juga dari arah Jepang dan Laut Filipina,” kata Atlamazoglou.
Ia menilai skenario ini dirancang untuk menguji kemampuan Tiongkok dalam menahan intervensi eksternal jika terjadi konflik terbuka.
Selama latihan tersebut, Pasukan Bela Diri Jepang melacak dan memantau pergerakan delapan pesawat militer Tiongkok yang terbang di atas wilayah barat daya Jepang.
Pesawat tersebut terdiri dari dua pesawat pembom strategis H-6, dua pesawat intelijen elektronik Y-9, dua jet tempur J-16, serta dua pesawat tempur lainnya yang belum teridentifikasi secara positif. Beberapa pesawat tersebut terbang dari Laut Cina Timur, melewati antara Okinawa dan Pulau Miyako hingga memasuki Laut Filipina, lalu kembali melalui rute yang sama.
Visual jalur penerbangan yang dirilis militer Jepang menunjukkan upaya pembentukan semacam penjagaan udara antara Jepang dan Taiwan. Atlamazoglou berpendapat pola ini bukanlah suatu kebetulan.
“Jalur penerbangan tersebut mewakili upaya yang jelas untuk menciptakan penghalang antara Jepang dan Taiwan, yang dalam skenario konflik dapat digunakan untuk mencegah bantuan militer datang ke pulau itu,” katanya.
Kemungkinan invasi
Selain aktivitas udara, beberapa kapal perang Tiongkok juga terlihat beroperasi di kawasan tersebut. Menurut Atlamazoglou, yang menarik perhatian adalah kehadiran kapal pengintai Rusia di area latihan.
Kehadiran kapal Rusia menunjukkan tingkat koordinasi militer yang lebih tinggi antara Beijing dan Moskow, terutama dalam konteks menghadapi Amerika Serikat dan sekutunya di Indo-Pasifik, ujarnya.
Latihan di sekitar Taiwan ini disebut-sebut menjadi salah satu latihan terbesar yang dilakukan militer Tiongkok dalam beberapa waktu terakhir. Tujuan utamanya adalah untuk mensimulasikan blokade laut dan udara sebagai persiapan menghadapi kemungkinan invasi amfibi. Dalam keterangan resminya, juru bicara Komando Teater Timur PLA menyatakan bahwa latihan tersebut telah mencapai tujuannya.
“Komando Teater Timur PLA telah berhasil menyelesaikan latihan militer ‘Misi Keadilan 2025’ dan sepenuhnya menguji kemampuan operasi gabungan terpadu pasukan tersebut,” kata juru bicara militer Tiongkok dalam siaran pers resmi.
Dia menambahkan, “Militer PLA akan tetap waspada setiap saat, terus memperkuat kesiapan tempur melalui pelatihan intensif, dengan tegas menggagalkan upaya separatis ‘kemerdekaan Taiwan’ dan campur tangan asing, serta menjaga kedaulatan nasional dan integritas wilayah.”
Pernyataan tersebut disertai dengan poster provokatif berjudul “Rantai Keadilan” yang menunjukkan sebuah lengan besar dari Tiongkok daratan memegang rantai di sekeliling Taiwan, menggambarkan blokade kawat berduri. Poster tersebut disertai tulisan dalam bahasa Mandarin yang berbunyi, “Hukum ‘kemerdekaan Taiwan’, mencegah campur tangan pihak luar.”
Upaya reunifikasi
Militer Taiwan melaporkan sekitar 130 pesawat PLA, 14 kapal perang PLAN, dan delapan kapal penjaga pantai China terlibat dalam latihan tersebut. Dari jumlah tersebut, sekitar 90 pesawat dilaporkan melintasi garis tengah Selat Taiwan dan memasuki zona identifikasi pertahanan udara (ADIZ) Taiwan di wilayah utara, tengah, barat daya, dan timur pulau tersebut.
Atlamazoglou menilai intensitas dan skala latihan tersebut memperkuat kekhawatiran sebagian pejabat militer AS. “Latihan seperti ini menunjukkan bahwa Tiongkok semakin dekat dengan tahap di mana mereka memiliki peralatan, personel, dan pengalaman operasional untuk melakukan blokade dan, pada akhirnya, invasi amfibi,” ujarnya.
Sebelumnya, komandan militer AS telah memperingatkan bahwa kesiapan militer China berkembang pesat. Tahun lalu, Laksamana Angkatan Laut AS Samuel Paparo, Komandan Komando Indo-Pasifik (INDOPACOM), menyatakan dalam kesaksiannya kepada Kongres bahwa Amerika Serikat berencana untuk meningkatkan aktivitas militernya di sekitar Taiwan sebesar 300 persen sebagai tindakan pencegahan.
Taiwan telah terpisah dari Tiongkok sejak berakhirnya Perang Saudara Tiongkok pada tahun 1949, ketika pasukan nasionalis mundur ke pulau itu dan mendirikan pemerintahan mereka sendiri.
Hingga saat ini, Beijing masih menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan menekankan bahwa reunifikasi dapat dicapai melalui cara damai, namun tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer.
(Dna)

