Daftar isi
Jakarta, Pahami.id —
Korea Selatan akhirnya menjatuhkan hukuman berat kepada mantan presidennya, Yoon Suk Yeol, setelah krisis politik yang hampir menghancurkan fondasi demokrasi negara tersebut.
Hanya butuh 11 hari bagi parlemen untuk mendakwa Yoon setelah dia mengumumkan darurat militer pada 3 Desember 2024. Namun, pengadilan membutuhkan waktu 14 bulan untuk memutuskan dia bersalah memimpin pemberontakan dan menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup.
Tindakan hukum tersebut merupakan puncak dari upaya utama Korea Selatan untuk meminta pertanggungjawaban seorang kepala negara yang dianggap berada di ambang kehancuran institusi demokrasi yang dibangun selama beberapa dekade.
Enam jam darurat militer
Keputusan darurat militer Yoon hanya bertahan enam jam. Namun, dampaknya memicu kekacauan politik selama berbulan-bulan.
Dalam pidatonya, Yoon menuduh partai oposisi utama bersimpati dengan Pyongyang dan melakukan “aktivitas anti-negara”. Keputusan tersebut melarang semua aktivitas politik dan demonstrasi, memberi wewenang kepada militer untuk melakukan penangkapan tanpa surat perintah, dan membungkam media.
Bagi generasi tua Korea Selatan, tindakan ini membangkitkan trauma masa kelam di bawah pemerintahan militer yang menindas.
Pada malam pengumuman tersebut, ratusan warga berkumpul di depan Majelis Nasional di Seoul. Di dalam gedung parlemen, anggota parlemen mencoba menerobos barikade militer untuk mengadakan pemungutan suara guna mencabut status darurat militer.
Sekitar pukul 01.00 dini hari, 190 anggota parlemen, termasuk dari partai konservatif Yoon, dengan suara bulat memilih untuk mencabut darurat militer. Yoon akhirnya menarik pesanannya sekitar tiga jam kemudian.
Song Hwa (35) dan suaminya, Heo Woojin, termasuk di antara warga yang bergegas menuju parlemen malam itu.
“Awalnya saya mengira ada perang,” kata Song yang menjalankan bisnis pakaian online. Ia bahkan memberikan tangkapan layar konstitusi yang menyatakan bahwa Senat dapat meminta pencabutan darurat militer melalui pemungutan suara kuorum, mengutip CNN.
Heo menggambarkan suasana mencekam dengan helikopter berputar-putar di atasnya dan hujan es tipis turun. “Ini seperti adegan film,” katanya.
Menurut mereka, kekuatan rakyat adalah kuncinya.
“Saya pikir orang-orang yang datang malam itu adalah orang-orang yang melindungi demokrasi kita,” kata Song. Heo menambahkan, “Keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut, namun bertindak bahkan ketika Anda merasa takut.”
Keputusan Yoon ini merupakan yang pertama dalam 44 tahun sejak pemerintahan militer di bawah Chun Doo-hwan, yang merebut kekuasaan melalui kudeta dan memerintah dengan tangan besi selama delapan tahun. Chun juga dihukum karena pengkhianatan sebelum diampuni.
Selama empat dekade terakhir, Korea Selatan telah bertransformasi menjadi negara demokrasi dinamis dengan sistem presidensial yang kuat, bahkan kediaman presiden dikenal dengan nama Gedung Biru.
Namun, penyelidikan baru-baru ini mengungkap klaim bahwa rencana Yoon lebih dari sekadar instruksi sederhana. Penyelidik menuduh Korea Utara melakukan provokasi, termasuk penerbangan drone rahasia, untuk membenarkan penerapan darurat militer.
Ketua hakim Ji Gwi-yeon menyatakan pengerahan militer ke parlemen dan upaya untuk menangkap lawan politik, termasuk Presiden saat ini Lee Jae-myung yang kemudian memimpin oposisi, sebagai tindakan pemberontakan.
Angka kontroversial
Yoon, mantan jaksa yang baru-baru ini memasuki dunia politik, memenangkan pemilu 2022 dengan selisih tipis. Ia dikenal sebagai seorang konservatif garis keras, sekutu kuat Amerika Serikat, dan memiliki sikap keras terhadap Tiongkok dan Korea Utara.
Namun popularitasnya menurun karena masalah ekonomi dan serangkaian skandal yang melibatkan istrinya serta penunjukan politik yang kontroversial. Tuduhan kecurangan pemilu tidak pernah terbukti.
Selama persidangan, Yoon bersikeras bahwa darurat militer adalah satu-satunya cara untuk memecahkan kebuntuan politik. Dia menyebut dugaan pemberontakan itu sebagai ‘ilusi dan karya fiksi’ serta konspirasi politik.
Jaksa telah mengupayakan hukuman mati, meski Korea Selatan sudah lama tidak menerapkan hukuman mati. Selain Yoon, mantan Menteri Pertahanan Kim Yong-hyun dijatuhi hukuman 30 tahun penjara, sementara empat petugas militer dan polisi lainnya menerima hukuman berkisar antara tiga hingga 18 tahun.
Mantan Perdana Menteri Han Duck-soo juga telah menjalani hukuman penjara 23 tahun. Yoon masih mempunyai hak untuk mengajukan banding dan menghadapi beberapa persidangan pidana lainnya.
Ujian demokrasi
Pengamat hukum di Seoul melihat krisis ini sebagai ‘ujian stres’ nyata bagi demokrasi Korea Selatan.
“Secara umum, lembaga demokrasi kita mampu menahan serangan frontal,” kata seorang profesor hukum. Namun kejadian ini juga menyoroti kelemahan yang perlu diperbaiki.
Bagi Song dan Heo, pelajaran terbesarnya adalah peran masyarakat.
“Bagi orang-orang yang bertanya apakah tindakan kecil bisa mengubah keadaan, saya ingin mengatakan: jika Anda melawan, dunia memang bisa berubah,” kata Heo.
(sels/sel)

