Berita Penumpang Kapal Wabah Hantavirus Dikarantina di Taiwan

by
Berita Penumpang Kapal Wabah Hantavirus Dikarantina di Taiwan


Jakarta, Pahami.id

Otoritas Taiwan warga negara bersertifikat Selandia Baru yang merupakan penumpang kapal pesiar MV Hondius sedang menjalani karantina di rumah sakit menyusul wabah hantavirus di kapal tersebut.

Otoritas kesehatan Taiwan mengatakan penumpang tersebut dinyatakan negatif hantavirus dan tidak menunjukkan gejala. Namun, ia tetap diisolasi sebagai tindakan pencegahan hingga 6 Juni.

Juru bicara Pusat Pengendalian Penyakit Taiwan (CDC) Tseng Shu-hui mengatakan pihak berwenang Selandia Baru memberi tahu Taiwan pada Rabu (14/5) bahwa orang tersebut berada di wilayah Taiwan.


Penumpang tersebut diketahui tiba di Taiwan pada 7 Mei setelah turun dari kapal pesiar di Saint Helena pada 24 April.

“Saat ini, kami menilai kemungkinan dia mengidap penyakit tersebut relatif rendah,” kata Tseng AFP.

Ia menambahkan, kontak terakhir penumpang tersebut dengan penumpang lain terjadi pada 25 April atau sekitar 20 hari lalu.

Tseng menolak membeberkan identitasnya lebih detail, termasuk usia pasien, jenis kelamin, dan lokasi saat ini di Taiwan.

Direktur Jenderal CDC Taiwan Lo Yi-chun mengatakan para penumpang tidak kembali ke Selandia Baru setelah meninggalkan kapal. Namun, mereka tidak membeberkan rute yang mereka tempuh sebelum tiba di Taiwan.

Sementara itu, kantor perwakilan Selandia Baru di Taipei memilih tidak mengomentari kasus tersebut.

Wabah di MV Hondius sebelumnya dikaitkan dengan jenis hantavirus Andean, satu-satunya jenis hantavirus yang diketahui dapat menular antarmanusia. Namun otoritas kesehatan internasional menekankan bahwa risiko penularan ke masyarakat luas masih rendah.

Secara global, wabah ini telah menyebabkan tiga kematian.

MV Hondius sendiri berlayar dari Argentina pada 1 April untuk pelayaran melintasi Samudera Atlantik.

Sampai saat ini belum ada vaksin atau pengobatan khusus yang tersedia untuk hantavirus. Namun, para pejabat kesehatan menegaskan bahwa situasi ini berbeda dengan pandemi Covid-19 dan tidak perlu menimbulkan kepanikan yang meluas.

(sels/sel)


Menambahkan

sebagai pilihan
sumber di Google