Jakarta, Pahami.id —
Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth mengaku khawatir dengan meningkatnya kekuatan militer Cina di kawasan Asia dalam beberapa waktu terakhir. Meski begitu, ia menegaskan Washington tetap menekankan pendekatan saling menghormati untuk menjaga keseimbangan regional.
Hal itu disampaikan Hegseth dalam pidatonya pada acara pertemuan para pejabat senior pertahanan yang digelar di Singapura, Jumat (29/5).
“Ketika kita melihat kawasan ini saat ini, ada kekhawatiran yang masuk akal mengenai sejarah pembangunan militer besar-besaran Tiongkok di kawasan ini dan sekitarnya,” kata Hegseth, melaporkan. AFPSabtu (30/5).
Ia mengatakan bahwa AS berkomitmen untuk menemukan keseimbangan kekuatan yang stabil di Asia demi kepentingan Amerika dan sekutunya. Keseimbangan ini bertujuan untuk memastikan bahwa tidak ada negara, termasuk Tiongkok, yang dapat memaksakan hegemoninya atau mengancam keamanan dan perdamaian regional.
“Washington tidak menginginkan konfrontasi yang tidak perlu di kawasan, namun menginginkan keseimbangan yang benar-benar stabil [di Asia] yang menguntungkan Amerika Serikat dan sekutu kami,” katanya.
Berbeda dengan nada konfrontatif tahun lalu, pidato Hegseth kali ini lebih lembut. Hegseth memimpin delegasi besar AS di forum yang dihadiri oleh pejabat pertahanan dari 45 negara.
Di sisi lain, Tiongkok kembali tidak mengirimkan Menteri Pertahanan Dong Jun untuk tahun kedua berturut-turut, dan hanya mengirimkan panel ahli militer dan akademisi.
Hegseth mencatat bahwa AS mengupayakan hubungan berdasarkan rasa hormat dan niat baik dengan Beijing. Ia pun menyayangkan ketidakhadiran Dong Jun di forum ini.
“Saya berharap rekan-rekan saya ada di sini pada konferensi ini, tapi saya menantikan pilihan lain ketika kita bisa bertemu satu sama lain,” kata Hegseth.
Pertemuan tersebut terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengunjungi Tiongkok bulan ini untuk membahas kesepakatan perdagangan. Setelah kunjungan tersebut, Trump mengisyaratkan bahwa Washington dapat menggunakan penjualan senjata ke Taiwan sebagai alat tawar-menawar dengan Beijing.
Terkait hal tersebut, Hegseth menegaskan belum ada perubahan sikap Washington terhadap Taiwan. Namun, ia menyatakan bahwa keputusan apa pun mengenai penjualan senjata di masa depan ke Taiwan akan sepenuhnya berada di tangan Presiden Donald Trump.
(dmi)
Menambahkan
sebagai pilihan
sumber di Google

