Berita Pengamat Dorong Pemerintah Perkuat Industri Pertahanan Dalam Negeri

by
Berita Pengamat Dorong Pemerintah Perkuat Industri Pertahanan Dalam Negeri


Jakarta, Pahami.id

Pengamat intelijen Ridlwan Habib mendorong pemerintah untuk meningkatkan penggunaan sistem persenjataan utama (peralatan pertahanan) di negara oleh TNI dan Polri dalam rangka memperkuat kemandirian industri pertahanan negara.

Ridlwan mencontohkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan yang menegaskan pemenuhan kebutuhan alutsista TNI dan Polri harus mengutamakan produksi dalam negeri.

“Untuk pengadaan non-impor, kita mulai dari alutsista yang teknologinya kita kuasai sepenuhnya. Misalnya senjata, amunisi, kapal patroli, dan kendaraan taktis seperti Maung atau Anoa. Mayoritas kita buat sendiri,” kata Ridlwan di Jakarta, Senin (26/1), dikutip dari di antara.


Ridlwan mengatakan beberapa perusahaan pelat merah tengah giat memproduksi alutsista yang banyak digunakan oleh berbagai instansi.

Salah satu perusahaan tersebut adalah Badan Usaha Milik Negara PT Pindad (Persero) yang telah memproduksi berbagai varian pistol (G2 Combat, MAGNUM, dll) dan senapan serbu seri SS (Senjata serbu 1, 2, hingga model terbaru SS3) yang digunakan oleh TNI dan Polri.

Pindad, kata Ridlwan, kini telah meningkatkan kapasitas produksi senjatanya dengan membuat peluru berukuran kecil (5,56 mm, 7,62 mm, 9 mm) dengan total 400 juta butir per tahun pada tahun 2020, naik dari 225 juta butir pada tahun sebelumnya.

Selain senjata dan amunisi, Ridlwan juga menyoroti lini produksi lokal suku cadang pemeliharaan alutsista yang menunjukkan kemajuan.

“Namun tantangannya masih ada pada komponen-komponen utama seperti mesin jet atau sensor elektronik tingkat tinggi. Jadi, kebijakan kita saat ini, kalaupun harus impor, mereka harus bekerja sama dengan pabrik lokal untuk membuat pabrik suku cadang di sini,” jelasnya.

“Sehingga ke depan jika terjadi keadaan darurat, pertahanan kita tidak bisa ‘dimatikan’ melalui embargo suku cadang oleh negara lain,” tambah Ridlwan.

Ridlwan menambahkan, untuk mendukung kemandirian industri pertahanan, kerja sama antara BUMN dengan industri swasta nasional sangat penting.

Hal ini harus dilakukan agar perusahaan swasta berperan aktif sebagai pemasok komponen, suku cadang presisi, dan alutsista pendukung pertahanan.

Sinergi BUMN dan swasta Tanah Air menjadi kunci penguatan ekosistem tersebut. Sejumlah perusahaan swasta kini berperan aktif sebagai pemasok komponen, suku cadang presisi, dan peralatan pendukung.

Salah satu contohnya adalah PT Nanggala Kencana Rekatama Indonesia (PT NKRI). Perusahaan swasta nasional ini telah memperoleh izin resmi dari Kementerian Pertahanan untuk memproduksi komponen senjata dan amunisi, serta suku cadang presisi untuk pesawat, kapal laut, dan kendaraan taktis.

Pabrik PT NKRI di Bandung kini menjadi bagian penting dalam rantai pasok industri pertahanan tanah air, dengan kemampuan memproduksi selongsong peluru, peluru, dan komponen mekanis presisi.

(antar/fra)