Jakarta, Pahami.id —
Pengadilan Tinggi London Bahasa inggris menentukan keputusan pemerintah untuk menetapkan programPalestinaAksi Palestina, sebagai organisasi teroris ilegal, Jumat (13/2).
Hakim Victoria Sharp mencatat bahwa meskipun Palestine Action mempromosikan tujuan politik melalui tindakan kriminal, penunjukan sebagai organisasi terlarang masih tidak proporsional.
Pengadilan menerima dua dasar klaim Aksi Palestina, termasuk klaim bahwa pelarangan organisasi tersebut merupakan bentuk campur tangan pemerintah yang tidak proporsional terhadap kebebasan berbicara dan kebebasan berkumpul.
Namun pengadilan memutuskan larangan tersebut akan tetap berlaku hingga proses banding.
Pengacara yang mewakili Huda Ammori, salah satu pendiri Aksi Palestina pada tahun 2020, berpendapat bahwa kebijakan pemerintah tersebut merupakan bentuk pembatasan otoriter terhadap hak untuk melakukan protes.
Keputusan pemerintah untuk melarang kegiatan organisasi tersebut menempatkan Aksi Palestina setara dengan kelompok militan seperti ISIS dan Al Qaeda.
Keanggotaan atau dukungan terhadap kelompok tersebut menjadi pelanggaran pidana dan lebih dari 2.000 orang dilaporkan ditangkap karena menunjukkan dukungan.
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Inggris Shabana Mahmood mengatakan pemerintah akan menggugat keputusan tersebut di Pengadilan Banding.
“Saya akan menantang keputusan ini di Pengadilan Banding,” ujarnya dalam keterangan resmi seperti dikutip Reuters.
Pemerintah Inggris menempatkan Aksi Palestina dalam daftar organisasi terlarang pada bulan Juli setelah semakin banyak menargetkan perusahaan pertahanan yang memiliki hubungan dengan Israel.
Kelompok ini menargetkan Elbit Systems di Inggris terutama melalui berbagai “aksi langsung”, seperti berdemonstrasi di depan kantor pusat perusahaan dan memblokir masuk atau menyemprot mereka dengan cat merah.
Kementerian Dalam Negeri Inggris menilai meningkatnya tindakan anarkis yang dilakukan kelompok tersebut sebagai tindakan terorisme.
Penilaian ini mengacu pada tindakan pendukung Aksi Palestina yang menyerbu pangkalan udara RAF Brize Norton pada Juni lalu hingga aktivis tersebut merusak dua pesawat.
Aksi Palestina mengadakan berbagai protes dan demonstrasi menentang invasi brutal Israel ke Palestina, khususnya Jalur Gaza pada Oktober 2023. Kelompok ini juga kerap memprotes hubungan diplomatik dan bisnis Inggris-Israel.
(rnp/rds)

