Jakarta, Pahami.id –
Juru Bicara Pos Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh, Murthalamuddin menegaskan, informasi yang menyebutkan jumlah korban meninggal akibat banjir Aceh sebanyak 400 orang adalah tidak benar alias bohong.
Data sementara Catatan Tanggap Darurat Banjir dan Tanggap Darurat ACEH, korban jiwa hingga saat ini mencapai 70 orang.
“Saya tegaskan data itu tidak benar alias berita hoaks,” kata Murthalamuddin di Banda Aceh, Minggu (30/11).
Pernyataan tersebut disampaikan Murthalamuddin menanggapi informasi yang beredar di masyarakat mengenai jumlah korban meninggal dunia dalam bencana Aceh yang mencapai 400 orang.
Ia meminta masyarakat tidak mempercayai berita bohong yang tersebar melalui media sosial. Berita resmi mengenai korban banjir hanya berasal dari pemerintah dan lembaga resmi lainnya, kata Murthalamuddin.
Seperti diketahui, bencana hidrometeorologi baik banjir maupun tanah longsor terjadi sejak 18 November 2025 dan berdampak pada 16 dari 23 kabupaten/kota se-Aceh.
Di sisi lain, berdasarkan data sementara Posko Tanggap Darurat Aceh dan Longsor, tercatat 87.550 Kepala Keluarga (KK) terdampak dan 52.162 KK mengungsi yang tersebar di 184 titik.
Bencana ini juga memakan korban jiwa dengan data sementara 70 orang meninggal dunia. Data ini mungkin bertambah karena masih terputusnya jalur komunikasi di kawasan banjir.
Untuk memastikan keberadaan mereka, pihak terus berkoordinasi dengan institusi terkait, seperti unsur TNI/Polri, rumah sakit, dan desa.
Sementara itu, Wakil Ketua DPR Aceh Saifuddin alias Yah Fud meminta seluruh akun media sosial berhenti menyebarkan berita bohong atau informasi yang tidak terverifikasi mengenai bencana banjir yang melanda beberapa wilayah di Aceh.
Menurutnya, menyebarkan informasi palsu hanya akan memperburuk keadaan dan menimbulkan kepanikan di kalangan masyarakat.
“Situasi saat ini sudah cukup menyulitkan masyarakat terdampak. Jangan menambah informasi yang tidak bisa dianggap remeh. Kami sangat meminta akun media sosial untuk berhenti menyebarkan berita bohong tentang banjir di Aceh,” kata Saifuddin.
Ia menjelaskan, masih banyak wilayah di lapangan yang mengalami gangguan jaringan komunikasi, terputusnya akses jalan, dan kondisi cuaca yang tidak menentu. Hal ini menyebabkan informasi yang beredar seringkali tidak lengkap, bahkan salah jika tidak berasal dari sumber resmi.
Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat hanya mempercayai dan menyebarkan informasi yang berasal dari instansi yang berwenang, seperti pemerintah daerah, BPBD, TNI, POLRI dan instansi terkait lainnya.
“Kalau ada informasi penting pastikan dulu sumbernya jelas, jangan asal disebar, apalagi kalau belum pasti kebenarannya, dampaknya bisa sangat luas,” kata Yah Fud.
(antara/gil)

