Jakarta, Pahami.id —
Ketua DPD Perjuangan PDI Jawa Timur Said Abdullah mengusulkan pendekatan baru untuk menentukan ambang batas parlemen (ambang batas parlemen/PT). Usulan ini muncul sebagai respons terhadap berbagai wacana yang berkembang belakangan ini.
Ditegaskannya, hampir semua negara dengan demokrasi matang menerapkan PT, meski dengan besaran yang berbeda-beda. Ia menolak gagasan mengganti PT dengan sistem koalisi partai kecil.
“Koalisi faksi partai-partai kecil akan terpaksa terjun ke dalam politik ‘kawin paksa’, padahal ideologi dan karakter partainya mungkin berbeda karena latar belakang budaya Indonesia yang beragam,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (30/1).
Menurut Said, sistem joint clan lebih mudah diterapkan di negara yang budayanya homogen. Situasi multikultural di Indonesia justru berisiko menimbulkan jalan buntu (jalan buntu) dalam pengambilan keputusan internal marga bersama.
Ia menilai PT diperlukan untuk mendorong konsolidasi demokrasi yang lebih efektif di parlemen. Hal ini sangat penting dalam pengambilan keputusan politik dan menjamin stabilitas pemerintahan.
Ia mengingatkan, Mahkamah Konstitusi (MK) tidak melarang penggunaan PT. Yang dibatalkan MK adalah penetapan PT 4% pada pemilu lalu karena dinilai tidak memiliki dasar konstitusi yang kuat.
“Menurut saya, kita tidak lagi bergantung pada nilai nominal PT yang perlu disebutkan dalam undang-undang,” kata Said.
Ia juga mengusulkan norma baru berdasarkan prinsip keterwakilan untuk mendukung fungsi legislasi. Partai peserta pemilu yang mempunyai hak duduk di DPR wajib memenuhi jumlah perlengkapan DPR pada periode sebelum pemilu diselenggarakan.
Saat ini DPR mempunyai 13 komisi dan 8 badan, totalnya 21 organ. Artinya, partai yang berhak masuk DPR minimal harus beranggotakan 21 orang untuk mengisi seluruh perlengkapannya.
Sebab, kalau jumlah wakil partai di DPR lebih sedikit dari kelengkapan dewan di atas, maka mereka tidak bisa menunaikan kewajiban legislasinya. Kalau tidak bisa menunaikan kewajiban legislasi, maka peran wakilnya di DPR akan lumpuh, tidak bisa efektif, pungkas Said.
(mendesah)

