Jakarta, Pahami.id —
Ketua Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyambut baik manifesto tersebut Paus Leo XIV yang memperingatkan akan besarnya risiko di balik penggunaan kecerdasan buatan (AI).
Dukungan terhadap Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik mengalir di tengah perlombaan teknologi global yang mengancam nilai-nilai kemanusiaan.
Melalui surat ensiklik bertajuk Magnifica Humanitas (Kemanusiaan Besar) yang diterbitkan pada Senin (25/5), Paus pertama asal Amerika Serikat itu menguraikan beberapa batasan penting untuk mengurangi dampak negatif teknologi terhadap peradaban modern.
Dia secara khusus mengeluarkan peringatan keras terhadap “perlombaan untuk mendapatkan algoritma yang semakin kuat dan kumpulan data yang lebih besar, yang didorong oleh keinginan untuk mendapatkan dominasi geopolitik atau komersial.”
Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Volker Turk, memuji tindakan Paus, menyebut manifesto tersebut sebagai seruan penting untuk menjaga martabat dan keadilan di era kecerdasan buatan.
“Kompas kita harus tetap menjadi kemanusiaan kita yang normal,” kata Turk.
Dalam ensikliknya, Paus Leo XIV juga menegaskan bahwa AI harus segera dibebaskan dari logika yang menjadikannya sebagai instrumen dominasi, eksklusi, dan kematian.
Fokus yang tajam diberikan pada penggunaan teknologi pintar di sektor militer, dengan menekankan bahwa keputusan yang menyangkut nyawa manusia tidak boleh diserahkan kepada mesin.
Oleh karena itu, ia menyerukan adanya gerakan untuk menghilangkan fungsi militer AI, yang berarti membebaskan teknologi tersebut dari mentalitas persaingan bersenjata.
Dia menulis bahwa teori “perang yang adil” yang baru-baru ini dianut oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump kini sudah “ketinggalan zaman”, dan berpendapat bahwa “tidak ada algoritma yang dapat membuat perang dapat diterima secara moral.”
Meski kritis, Vatikan menekankan bahwa pembatasan ini bukanlah bentuk perlawanan terhadap modernisasi.
“Melucuti senjata bukan berarti menolak teknologi, namun mencegahnya mendominasi umat manusia,” tulis Paus Leo XIV dalam ensikliknya.
Pandangan tersebut sejalan dengan prinsip dasar yang dianut PBB mengenai arah inovasi digital. Turk pun mengamini hal tersebut dengan menekankan peran kunci perkembangan teknologi saat ini.
“Teknologi harus melayani masyarakat, bukan menggantikan atau mengendalikan mereka,” kata Turk.
Peluncuran manifesto tersebut dihadiri oleh para pakar teknologi, termasuk Christopher Olah, yang merupakan salah satu pendiri raksasa AI AS, Anthropic.
Keterlibatan Olah menarik perhatian publik karena perusahaannya kini menghadapi konfrontasi hukum dengan militer AS karena menolak mengembangkan teknologi untuk peperangan otonom yang mematikan dan sistem pengawasan massal.
Di hadapan otoritas Vatikan, Olah mengakui dilema moral industri ini, dengan mengatakan bahwa perusahaan AI sering kali beroperasi dalam serangkaian insentif dan batasan yang terkadang bertentangan dengan tindakan yang tepat.
Menanggapi keterbukaan tersebut, Paus menyatakan menerima ajakan Olah untuk berjalan bersama, mendengarkan, berbicara dan bekerja sama dalam mencari solusi terbaik bagi masa depan umat manusia.
Sinergi antara PBB dan Vatikan ini terasa semakin mendesak jika mengacu pada data pembangunan global.
Proyeksi PBB menunjukkan bahwa nilai pasar kecerdasan buatan berpotensi mencapai US$4,8 triliun pada tahun 2033, yang merupakan lonjakan besar sebesar 25 kali lipat hanya dalam satu dekade.
(Kris)
Menambahkan
sebagai pilihan
sumber di Google

