Berita Pasuruan Usung Identitas Baru ‘Religius Modern’ Berbasis Riset Warga

by
Berita Pasuruan Usung Identitas Baru ‘Religius Modern’ Berbasis Riset Warga


Jakarta, Pahami.id

Pemerintah Kota (Pemerintah Kota) Pasuruan memperkenalkan wajah baru yang mengusung konsep ‘Agama Modern’. Konsep ini didasarkan pada pengamatan terhadap kondisi warga Pasuruan.

Konsep ini juga dihasilkan dari penelitian terpadu yang memadukan beberapa metode antara Pemerintah Kota Pasuruan dengan lembaga profesi LOGITERA.

Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo menegaskan, hasil kajian city branding penting untuk memperkuat identitas daerah yang dipimpinnya.


“Beragama bukan berarti statis, modern bukan berarti terputus. Pasuruan menunjukkan keduanya terintegrasi dalam kehidupan warganya,” kata Adi dalam keterangan tertulisnya, Minggu (8/2).

Diketahui, dalam penelitian ini salah satu metode yang digunakan adalah survei persepsi dari populasi. Sebanyak 73,5 persen jurnalis atau warga menilai keunikan Pasuruan terletak pada nuansa religinya.

Kemudian, sebanyak 58,4 persen memilih kata religius, santri, dan berkah sebagai ungkapan yang paling tepat menggambarkan kota tersebut. Sedangkan 41,8 persen langsung teringat santri KH Abdul Hamid dan Payung Madinah di alun-alun saat nama Pasuruan disebut.

Namun penelitian yang sama juga menunjukkan sisi lain Pasuruan sebagai kota yang ramai. Warga menyebut alun-alun kota dan monumen sebagai ruang interaksi aktif; pantai, nelayan dan pelabuhan sebagai jantung perekonomian sehari-hari; serta bipang/jipang sebagai warisan kuliner yang terus diproduksi dan diperdagangkan.

Kemudian, Pasuruan juga dikenal sebagai kota yang majemuk, dimana berbagai latar belakang sosial hidup berdampingan. Dari sinilah muncul kata ‘Modern’, yaitu Pasuruan dipandang sebagai ruang publik yang dinamis, perekonomian kerakyatan yang berfungsi, dan masyarakat yang terbuka.

Temuan tersebut kemudian dirangkum menjadi enam simbol identitas yaitu spiritualitas, pantai-laut, monumen perkotaan, keberagaman masyarakat, masakan khas, dan bentang laut yang membentuk Sistem Bahasa Visual Pasuruan.

Adi mengatakan, branding kota tersebut diposisikan lebih dari sekedar logo baru. Namun juga merupakan wadah strategis untuk memperkuat berbagai kebijakan.

“Langkah strategis penguatan pariwisata, ekonomi kreatif, komunikasi publik, dan promosi investasi daerah. Penguatan pariwisata, ekonomi kreatif, komunikasi publik, dan promosi investasi daerah,” ujarnya.

Sementara itu, Peneliti LOGITERA Adi F. Nugrotomo menyampaikan pentingnya menggali persepsi dan akar sejarah penduduk sebagai bagian penting dalam pembentukan branding Kota Pasuruan.

“Kami tidak memulai dari desainnya, tapi dari ingatan warganya. Ketika ingatan kolektif itu mengarah pada religiusitas, dan sekaligus warga menggambarkan kotanya sebagai kawasan yang hidup dan terbuka, maka ‘Religious Modern’ adalah kesimpulan empiris, bukan slogan kreatif,” ujarnya.

Sosialisasi mengenai temuan penelitian ini juga telah dilakukan kepada seluruh jajaran aparatur pemerintah di Kota Pasuruan dalam rangkaian acara Sosialisasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Pasuruan tahun 2025-2029 pada pertengahan tahun 2025.

Ke depan, identitas visual Agama Modern secara bertahap akan muncul di ruang publik, dokumen resmi, materi promosi, serta berkolaborasi dengan komunitas lokal dan pelaku usaha.

(disk / mikrofon)