Berita Pasukan Israel Invasi Lebanon, Bongkar hingga Menjarah Rumah Warga

by
Berita Pasukan Israel Invasi Lebanon, Bongkar hingga Menjarah Rumah Warga


Jakarta, Pahami.id

tentara tentara Israel dikatakan telah merusak dan menjarah rumah-rumah penduduk selama invasi Libanon selatan.

media Israel, Haaretzpada tanggal 20 Mei dirilis kesaksian sejumlah tentara yang mengaku menjalankan “misi tidak resmi” di Lebanon selatan, yaitu merampok seluruh barang berharga milik warga.


Dalam laporan Haaretzseorang tentara cadangan Israel menjelaskan bagaimana mereka mencuri barang-barang untuk dibawa ke Israel.

“Metodenya selalu sama,” kata tentara itu Mata Timur Tengah (MEE).

“Ketika kita yakin kawasan itu aman, maka misi sebenarnya akan dimulai yaitu mencari barang-barang berharga,” ujarnya.

Berdasarkan pengakuannya, tentara Israel kerap menjarah karpet, kursi, sepeda motor, dan pemanas rumah warga. Saat berada di dalam toko, mereka merampok barang-barang dengan harga mahal.

Bahkan sabun cuci tangan di kantor pos pun berasal dari Lebanon, ujarnya.

“Sepanjang waktu terlihat tentara berjalan keliling desa sambil membawa barang-barang milik warga. Sepertinya itulah misi utama mereka,” lanjutnya.

Kesaksian ini muncul di tengah meningkatnya laporan penjarahan massal yang dilakukan pasukan Israel sejak Israel kembali berperang melawan Hizbullah pada Maret lalu.

Haaretz melaporkan bulan lalu bahwa pasukan Israel menjarah sofa, televisi dan sepeda motor dari rumah-rumah di Lebanon selatan. Aksi pencurian ini bahkan dibiarkan begitu saja oleh Panglima TNI.

Media Israel lainnya, Ynet, melaporkan awal bulan ini bahwa para pemimpin militer sedang berjuang untuk mengatasi skala penjarahan.

Kepala Staf Angkatan Darat Israel, Eyal Zamir menegaskan, “fenomena perampokan jika benar terjadi adalah suatu hal yang memalukan dan dapat mencoreng nama baik seluruh (tentara).”

“Jika kejadian seperti itu terjadi, kami akan menyelidikinya. Saya tidak bersedia jika kami menjadi pasukan perampok,” kata Zamir kepada komandan senior dalam pertemuan militer.

Berdasarkan laporan Channel 14, Zamir segera meminta komandan yang beroperasi di Lebanon menandatangani surat komitmen pencegahan perampokan.

Namun, salah satu komandan menolak menandatangani.

“Saya tidak akan menandatangani surat itu,” katanya, seraya menambahkan bahwa masalah disiplin militer dimulai dari tingkat tertinggi.

Menurut tentara cadangan yang berbicara kepada Haaretz, sebagian besar komandan tidak peduli dengan penjarahan yang dilakukan oleh bawahannya.

“Sikapnya tidak ada masalah penjarahan selama tidak terluka. Atasan juga tidak berusaha menghentikan kami,” akunya.

Setelah laporan penjarahan muncul bulan lalu, komandan militer mulai memerintahkan tentaranya untuk berhenti mencuri. Perintah tersebut dikeluarkan bersamaan dengan penghancuran barang-barang di toko-toko “sehingga tentara tidak punya apa-apa lagi untuk dijarah”.

Meskipun demikian, tidak ada tentara yang dihukum karena penjarahan.

Menurut tentara tersebut, beberapa tentara menggunakan alasan agama untuk mencuri di medan perang. Sementara sebagian lainnya berpendapat tidak ada alasan untuk meninggalkan barang-barang berharga karena rumah dan toko sudah hancur.

Adam Raz, seorang sejarawan Israel yang telah menulis tentang penjarahan properti Palestina selama Nakba tahun 1948, mengatakan bulan lalu bahwa “penjarahan adalah bagian dari setiap perang Israel”.

“Yang baru adalah ketidakpedulian total. Komando senior menutup mata, aktivitas kriminal terus berlanjut, dan kejahatan mencapai tujuannya,” katanya.

Pemantau Hak Asasi Manusia Euro-Med bulan lalu melaporkan adanya pola pencurian yang jelas selama operasi militer Israel di Lebanon.

Kelompok itu mengatakan pasukan Israel “mendobrak rumah-rumah, menggeledah properti, dan menjarah uang serta barang-barang pribadi orang-orang.”

Praktik ini dikatakan sebagai “kebijakan nasional dan militer yang efektif” Israel.

Euro-Med mengatakan pihaknya juga mendokumentasikan penjarahan di Jalur Gaza dan Tepi Barat, Palestina, yang dilakukan pasukan Zionis.

Pada bulan Januari, tentara Israel juga dilaporkan mencuri sekitar 250 ekor kambing dari wilayah Suriah.

Selain penjarahan, tentara cadangan lainnya juga mengatakan kepada Haaretz bahwa tentara Israel memiliki misi lain di medan perang, yaitu menghancurkan rumah-rumah penduduk.

“Saat kami memasuki desa, tidak ada militan. Rumah itu kosong,” katanya.

“Tidak ada perkelahian sama sekali di sana. Hanya operasi perataan rumah,” lanjutnya.

Menurut prajurit tersebut, aksi tersebut merupakan misi militer selama dua tahun terakhir. Tak hanya rumah, sasaran perusakan juga menyasar sekolah dan klinik.

Bagi tentara yang beragama, katanya, menghancurkan rumah dipandang sebagai “misi utama”.

“Setiap kali seseorang berbicara tentang kembali ke Israel, komandan batalion akan menjawab: ‘Ini Israel juga,’” katanya.

(blq/baca)


Menambahkan

sebagai pilihan
sumber di Google