Berita Pakistan Dinilai Hanya Jadi Fasilitator Logistik dalam Konflik Iran-AS

by
Berita Pakistan Dinilai Hanya Jadi Fasilitator Logistik dalam Konflik Iran-AS


Jakarta, Pahami.id

Pakistan disebut-sebut gagal memainkan perannya sebagai mediator utama dalam konflik Iran dan Amerika Serikat (AS), meski Islamabad berusaha keras menampilkan dirinya sebagai mediator dalam perundingan kedua negara.

Pakistan disebut-sebut lebih berperan sebagai fasilitator logistik ketimbang perantara yang benar-benar mampu mempengaruhi arah perundingan.

Hal ini dikonfirmasi oleh laporan baru-baru ini yang mengutip seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, yang mengatakan bahwa Iran telah memindahkan sejumlah pesawat militer dan sipil, termasuk pesawat pengintai RC-130, ke Pangkalan Udara Nur Khan di Pakistan selama konflik Iran-AS.


Pesawat tersebut diduga dipindahkan untuk menghindari kemungkinan serangan AS. Pakistan mengakui kehadiran pesawat Iran di wilayahnya, namun mengatakan hal itu terkait dengan kebutuhan logistik diplomatik dalam perundingan gencatan senjata.

Meskipun Islamabad berusaha memposisikan dirinya sebagai mediator, jurnalis senior Balochistan Rachmatullah Achakzai berpendapat bahwa kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa peran Pakistan sangat terbatas.

“Pakistan bukan mediator, tapi hanya fasilitator perundingan,” kata Achakzai.

Menurutnya, perkembangan perundingan langsung antara delegasi Iran dan AS di Islamabad menunjukkan bahwa Pakistan tidak memiliki pengaruh nyata untuk menjembatani kesenjangan kepercayaan antara kedua belah pihak.

Hubungan AS-Pakistan

Pakistan juga disebut tidak punya kendali atas eskalasi pasca perundingan, termasuk ketika AS mengancam akan memblokir Selat Hormuz.

“Jika dicermati lebih dekat, Pakistan pada awalnya tampak sebagai pemain penting dalam perundingan, namun perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa Islamabad hanya menjadi ‘penggerak pesan’ dalam permainan mediasi,” ujarnya.

Achakzai mengatakan, kemunculan Pakistan sebagai lokasi diskusi dinilai tidak lazim karena citra internasional terhadap negara tersebut lebih sering dikaitkan dengan terorisme, ekstremisme, inflasi, kemiskinan, dan krisis ekonomi.

Namun menurutnya, sejarah hubungan Pakistan dengan AS dan kedekatan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Asim Munir dengan Washington menjadi faktor penting yang menjadikan Islamabad sebagai lokasi pembicaraan.

“Iran setuju dengan Pakistan sebagai lokasi netral karena tidak ada pangkalan militer AS di sana,” kata Achakzai.

Namun, dia yakin Teheran masih belum sepenuhnya mempercayai Islamabad.

Iran dikatakan mencurigai Pakistan berbagi informasi penting dengan AS, ditambah dengan hubungan militer Pakistan dengan Arab Saudi, yang telah lama menjadi saingan regional Iran.

Achakzai juga menegaskan sikap Pakistan yang tidak menyebut AS secara langsung saat mengutuk serangan terhadap Iran dan pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei.

Selain itu, pengiriman pasukan Pakistan ke Arab Saudi pada masa lalu juga disebut-sebut memperkuat kecurigaan Teheran terhadap netralitas Islamabad.

Di sisi lain, Israel juga disebut memandang Pakistan sebagai pihak yang tidak bisa diandalkan dalam proses mediasi. Israel dilaporkan hanya menerima keterlibatan Pakistan untuk menjaga keselarasan dengan kebijakan AS.

Posisi Islamabad menjadi lebih rumit setelah Menteri Pertahanan Pakistan melontarkan kritik pedas terhadap Israel, menyebut negara itu “jahat”, “momok kemanusiaan”, dan “kanker”.

Pakistan sendiri saat ini tidak mengakui Israel dan diketahui mendukung perjuangan Palestina.

Achakzai mengatakan kombinasi sejarah Pakistan, ikatan agama-ideologis, dan catatan diplomatik yang rumit membuat negara tersebut sulit diterima sebagai mediator netral.

“Citra negatif Pakistan akibat keterlibatannya dalam berbagai isu terorisme global, ikatan ideologi, dan kegagalan mediasi sebelumnya membatasi perannya,” ujarnya.

Menurutnya, peran Pakistan pada akhirnya hanya berada di pinggiran proses diplomasi, sebatas menyediakan tempat dan dukungan logistik bagi pertemuan pihak-pihak yang berkonflik.

“Pakistan tidak menentukan arah perundingan, namun hanya menyediakan platform diplomasi,” pungkas Achakzai.

(Dna)


Menambahkan

sebagai pilihan
sumber di Google