Berita Menteri PPPA Fokus Pendampingan Keluarga Anak Bunuh Diri di NTT

by
Berita Menteri PPPA Fokus Pendampingan Keluarga Anak Bunuh Diri di NTT


Jakarta, Pahami.id

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menyatakan pemerintah memberikan bantuan kepada keluarga anak sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang mengakhiri hidupnya sendiri karena masalah ekonomi.

Arifah mengatakan, Sabtu (7/2) bantuan tersebut difokuskan untuk penguatan keluarga serta pemenuhan hak pendidikan dan rehabilitasi psikologis anggota keluarga yang ditinggalkan.


“Yang masih kami dengar, tim Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) ada di departemen yang mengkoordinasikan dan memberikan bantuan. Jadi yang kita prioritaskan adalah bagaimana penguatan keluarga,” kata Arifah di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat.

Dia menjelaskan, bantuan dipusatkan pada keluarga inti korban yang kini tinggal bersama nenek, ibu, dan dua saudara laki-lakinya.

Upaya yang dilakukan pemerintah provinsi bersama lintas departemen untuk memberikan dukungan psikologis termasuk mendatangkan psikolog klinis dari kabupaten terdekat karena terbatasnya staf di lokasi.

“Karena di sana belum ada psikolog klinis, maka psikolog klinis akan didatangkan dari kabupaten terdekat,” ujarnya.

Selain rehabilitasi psikologis, PPPA juga berkoordinasi untuk memastikan hak pendidikan kedua saudara korban tetap terpenuhi. Salah satu saudara laki-laki korban berusia 17 tahun dan satu lagi berusia 14 tahun.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Sosial dan Dinas Pendidikan, akan diupayakan agar kedua kakak beradik ini mendapatkan pendidikan,” kata Arifah.

Terkait faktor penyebab kejadian tersebut, Arifah mengatakan temuan awal menunjukkan adanya akumulasi permasalahan yang dihadapi para korban termasuk terbatasnya ruang untuk membicarakan tekanan yang mereka rasakan.

Analisa sementara, anak ini tidak punya tempat untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya dia rasakan, ujarnya.

Tragedi ini mendapat perhatian luas dari berbagai pihak. Presiden Prabowo Subianto disebut memberikan perhatian khusus dan meminta kementerian terkait berkoordinasi guna mencegah kejadian serupa terulang kembali. Prabowo juga mendorong evaluasi sistem perlindungan sosial bagi keluarga rentan.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan, pemerintah telah berkoordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Sosial untuk menangani keluarga korban, serta memberikan langkah preventif ke depannya.

Di tingkat daerah, Gubernur NTT Melki Laka Lena menilai kejadian ini merupakan kegagalan sistemik, mulai dari tingkat daerah, kabupaten, hingga pemerintahan paling bawah, dalam mendeteksi dan menyikapi kondisi kelemahan yang dialami keluarga korban.

Dia menggambarkan kejadian ini sebagai pukulan telak terhadap kemanusiaan dan tata kelola perlindungan sosial di wilayah tersebut.

Korbannya adalah siswa kelas IV SD berusia 10 tahun. Ia ditemukan tewas bunuh diri pada Kamis (29/1). Lokasi kejadian tak jauh dari pondok tempat tinggal korban bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun.

Polisi menemukan surat tulisan tangan yang diduga ditujukan kepada ibu korban, berisi pesan perpisahan dan permintaan agar ibunya tidak menangis.

Berdasarkan keterangan polisi, korban meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku catatan dan pensil. Permintaan ini tidak dapat dipenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga.

Diketahui, ibu korban merupakan orang tua tunggal yang bekerja seharian, sedangkan korban sehari-hari tinggal bersama neneknya.

Permasalahan depresi bukanlah suatu hal yang mudah. Jika Anda pernah berpikir atau merasa ingin bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal seseorang yang pernah mengalaminya, Anda disarankan untuk mencari bantuan profesional. Layanan Hotline Pencegahan Bunuh Diri Gratis Kementerian Kesehatan dan RS Marzoeki Mahdi dapat dihubungi melalui www.healing119.id, atau melalui telepon di 119 ekstensi 8, atau WhatsApp yang terhubung langsung dengan website. Layanan ini terhubung langsung dengan konselor Pusat Kesehatan Jiwa Nasional RS Marzoeki Mahdi dan jaringannya, serta psikolog klinis dari Ikatan Psikologi Klinis Indonesia (IPK). Segala keluhan akan didengarkan dengan tulus dan privasi akan tetap terjaga.

(del/akhir)