Berita Menkeu AS Klaim Bobol Dompet Kripto Iran Senilai Rp17,82 T

by
Berita Menkeu AS Klaim Bobol Dompet Kripto Iran Senilai Rp17,82 T


Jakarta, Pahami.id

Menteri Keuangan Amerika Serikat (Amerika Serikat) Scott Bessent mengklaim pemerintahnya telah menyita aset kripto miliknya Iran bernilai sekitar US$1 miliar atau setara dengan Rp. 17,82 triliun (kurs Rp 17.823 per dolar AS).

Langkah tersebut dikatakan sebagai bagian dari tekanan ekonomi Washington terhadap Teheran, yang dianggap semakin mengalami tekanan finansial.

“Kami telah menyita sekitar US$1 miliar kripto mereka. Kami segera mengambil dompet digital mereka,” kata Bessent di Reagan National Economic Forum, Jumat (29/5), seperti dilansir CNN.


Bessent mengatakan penyitaan aset digital merupakan bagian dari kampanye tekanan ekonomi pemerintah AS terhadap Iran melalui operasi yang disebut ‘Operation Economic Fury’.

Menurutnya, kombinasi operasi militer yang berlangsung sekitar enam minggu dan tekanan ekonomi yang dilakukan Washington membuat situasi keuangan Iran semakin buruk.

“Saya pikir setelah lima setengah hingga enam minggu kampanye militer dan Operasi Kemarahan Ekonomi yang sangat sukses, di mana kami benar-benar memutus akses mereka, secara finansial mereka kini berada di ujung kemampuan mereka,” katanya.

Bessent juga mengklaim bahwa beberapa indikator ekonomi dan sosial di Iran menunjukkan bahwa situasinya menjadi semakin sulit. Ia mengatakan, beberapa tentara Iran tidak menerima gaji, inflasi melonjak, dan pemerintah harus membagikan kupon makanan kepada masyarakat.

“Sekitar 40 sampai 50 persen tentara tidak dibayar. Polisi tidak melapor ke kantor. Inflasi mungkin melebihi 200 persen. Mereka harus membagikan voucher sembako. Internet juga dimatikan,” ujarnya.

Program tekanan ekonomi ini akan dimulai pada Maret 2025. Pemerintah AS mengklaim telah menyita berbagai aset Iran, membekukan rekening bank, dan mendorong negara lain untuk membatasi hubungan ekonomi dengan Teheran.

Bessent mengatakan Washington juga bekerja sama dengan beberapa sekutu Eropa untuk menyita aset yang diduga terkait dengan pejabat Iran.

“Kami bekerja sama dengan sekutu di seluruh Eropa untuk menyita vila, rumah, dan properti. Ini adalah uang yang dicuri dari rakyat Iran,” katanya.

Ia menuding rezim Iran sebelumnya memperoleh US$400 juta hingga US$500 juta atau setara Rp. 8,9 triliun setiap bulan yang kemudian didistribusikan ke beberapa pemimpin nasional sebelum Departemen Keuangan AS melakukan intervensi.

Di tengah tekanan ekonomi tersebut, Bessent juga menyinggung proses negosiasi yang sedang berlangsung antara AS dan Iran. Menurutnya, dinamisme perundingan menjadi lebih rumit karena melibatkan berbagai kelompok kekuatan di Iran.

“Kita bukan ganti rezim, tapi kita ganti rezim. Pemimpin tingkat pertama lumpuh, tingkat kedua juga. Nah sekarang kita berhadapan dengan tingkat ketiga,” ujarnya.

Ia menggambarkan Iran sebagai negara dengan dua pusat kekuasaan utama, yakni kelompok ulama yang memimpin pemerintahan teokratis dan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).

“Di satu sisi ada teokrasi yang dipimpin oleh para ulama. Di sisi lain ada otokrasi yang dijalankan oleh IRGC. Dan Anda harus meyakinkan kedua belah pihak,” ujarnya.

Bessent juga menilai Iran melakukan kesalahan besar dengan melancarkan serangan terhadap negara-negara di kawasan Teluk Persia. Menurutnya, langkah tersebut justru memudahkan AS melacak hubungan ekonomi Iran di kawasan.

Ia mengklaim bahwa beberapa negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) kini lebih terbuka dalam mengungkapkan hubungan antara sistem perbankan dan perdagangan minyak mereka terkait dengan Iran pasca serangan tersebut.

“Mereka membuat pekerjaan saya lebih mudah,” kata Bessent.

(blq/biaya)


Menambahkan

sebagai pilihan
sumber di Google