Jakarta, Pahami.id —
Menteri Kesehatan (Menteri Kesehatan) Budi Gunadi Sadikin meminta tambahan anggaran agar pemugaran selesai banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
BGS menjelaskan, anggaran ini akan digunakan untuk perbaikan rumah sakit, puskesmas, faskes, dan rumah tenaga kesehatan.
“Pada tanggal 20 Januari kami telah menyampaikan surat kepada Presiden untuk meminta tambahan anggaran rehabilitasi pascabencana di Sumatera sebesar Rp 529 miliar yang telah dirinci oleh pihak rumah sakit dan juga Puskesmas,” kata BGS dalam rapat koordinasi gugus tugas di Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Senin (26/1).
BGS menjelaskan, beberapa rumah sakit di wilayah terdampak bencana juga sudah dibuka kembali, meski ada pula yang memerlukan perbaikan. Ia juga mengatakan, pihaknya sudah mencantumkan fasilitas kesehatan yang perlu dihidupkan kembali.
“Termasuk rumah nakes. Karena kita lihat rumahnya kurang rapi, ini yang ingin saya tanyakan khusus kepada Mendagri dan Menko,” ujarnya.
BGS menuturkan, saat ini Kementerian Kesehatan masih menunggu penurunan anggaran tambahan
“Nah, pihak swasta sudah menyumbang Rp 118 miliar. Jadi sisanya tinggal menunggu anggarannya. Jadi bisa lebih cepat,” ujarnya.
Banjir bandang dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera pada akhir tahun 2025. Dua bulan setelah banjir melanda, delapan desa di Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kabupaten Tapanuli Utara masih terisolasi.
Kepala Bidang Penanggulangan, Peralatan dan Logistik Darurat BPBD Sumut, Sri Wahyuni ampampampaikan dampak bencana yang masih dirasakan warga hingga saat ini.
Di Kabupaten Tapanuli Tengah ada empat desa yang masih terisolir. Dua desa berada di Distrik Tukka, yaitu Kampung Saur Manggita (102 KK) dan Kampung S. Kalangan 2 (214 KK). Sedangkan di Kecamatan Sibabangun terdapat Desa Sibio-Bio (298 KK) dan di Kecamatan Lumut terdapat Desa Sialogo (254 KK).
Vaksin campak di Sumatera
Budi menambahkan, pemerintah tengah menggencarkan imunisasi tambahan campak di Pulau Sumatera dan telah mengerahkan ribuan tenaga kesehatan untuk melakukan imunisasi tambahan.
“Karena campak itu penyakit yang sangat menular. Jadi kita lihat muncul di beberapa kota, makanya kita langsung lakukan imunisasi tambahan. Itu dilakukan oleh para relawan,” kata Budi.
Selain itu, kata BGS, para relawan juga melakukan trauma healing. Katanya, mereka mengumpulkan psikiater klinis untuk menghibur anak-anak di sana. BGS juga melaporkan, saat ini sudah dikirim sekitar enam ribu tenaga kesehatan ke sana.
“Kita kirim 6.100. Ini bergilir dua minggu sekali. Jadi sekarang turun menjadi 500-600, mereka selalu ada. Mereka kita tempatkan untuk bertugas di posko pengungsian dan desa-desa terpencil,” ujarnya.
(mnf/dal)

