Jakarta, Pahami.id —
Retakan di antara Amerika Serikat dan sekutunya Israel tidak bisa ditutup lagi.
Presiden Donald Trump dilaporkan bentrok dengan PM Netanyahu terkait perang Iran.
Bagi Trump, prioritasnya adalah mencapai kesepakatan baru dengan Iran dengan strategi “tekanan maksimum” – yang merupakan kombinasi sanksi ekonomi keras dan sinyal pencegahan militer.
Namun bagi Israel, kesepakatan apa pun dengan Iran sangat mencurigakan. Bagi pemerintahan Netanyahu, masalahnya bukan hanya pada isi perjanjian, namun asumsi bahwa Iran akan mematuhinya dalam jangka panjang.
Hal inilah yang membuat Netanyahu terus berusaha menggagalkan perundingan damai AS-Iran. Bahkan ketika perundingan AS-Iran gagal beberapa waktu lalu, Israel dikabarkan dengan senang hati menyambut kegagalan perundingan yang terjadi di Islamabad.
Dan sekarang, ketika perundingan perdamaian mulai bergerak maju, Iran menuduh Israel berusaha “menggagalkan” upaya Amerika Serikat dan Teheran untuk mencapai kesepakatan yang dinegosiasikan untuk mengakhiri perang.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Ismaeil Baghaei menilai Israel mungkin mencoba menggagalkan proses negosiasi yang sedang berlangsung antara AS dan Iran. Baghaei mendasarkan klaimnya pada negosiasi yang sedang berlangsung antara AS dan Iran yang sebelumnya terhenti.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu semakin bersikeras untuk menelepon Presiden AS Donald Trump dan berulang kali menekankan bahwa operasi militer terhadap Iran belum berakhir meskipun gencatan senjata terus berlanjut.
“Entitas Zionis berusaha semaksimal mungkin untuk merusak perjanjian ini dan kami mengharapkan tindakan dari Israel,” kata Baghaei seperti dikutip. Al Jazeera.
“Tidak ada yang bisa dikesampingkan. Namun negara-negara yang terus menyerukan perang dan permusuhan, termasuk entitas Zionis, sangat aktif dalam membentuk opini di media dan hal itu mungkin mempengaruhi pejabat AS,” lanjutnya.
Selain itu, Iran juga memperingatkan bahwa meskipun ada kemajuan dalam negosiasi, Teheran dan Washington masih belum mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang.
ketakutan terhadap nuklir Iran
Salah satu alasan Israel ingin AS berperang dengan Iran adalah masalah nuklir. Israel selalu memandang Iran sebagai ancaman nyata. Karena itu, Israel tidak ingin para mullah memproduksi senjata nuklir.
Menurut peneliti Royal United Services Institute (RUSI), Ehud Eilam, Israel sangat khawatir dengan proyek nuklir Iran.
Selama bertahun-tahun, Israel berupaya memperlambat program nuklir Iran sebelum negara itu dapat memproduksi senjata nuklir, dengan menggunakan taktik rahasia seperti serangan dunia maya dan pembunuhan ilmuwan nuklir Iran.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan para pemimpin Israel lainnya telah memperingatkan ancaman Iran. Hal ini akhirnya menyebabkan konfrontasi baru-baru ini.
The New York Times menulis bahwa tidak ada negara yang melihat protes di Iran dengan lebih tertarik daripada Israel, yang memandang Republik Islam sebagai musuh bebuyutan dan ancaman nyata.
Iran telah menjadi obsesi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang menggambarkan pemerintahan di Teheran sebagai ancaman global yang sebanding dengan Nazi Jerman.
Kedua negara terlibat perang selama 12 hari pada bulan Juni lalu, di mana Israel, yang bersekutu dengan Amerika Serikat, membombardir situs militer dan nuklir Iran sementara Iran membombardir Israel dengan rudal balistik.
Namun, mantan pejabat dan analis mengatakan bahwa kepemimpinan Israel sepertinya tidak akan berbuat banyak untuk mempercepat pergantian rezim, mengingat pemerintahan Iran masih jauh dari ambang kehancuran dan protes yang terjadi saat ini tidak cukup untuk mendorong negara tersebut ke titik tersebut.
Israel tidak mungkin menyerang Iran kecuali diundang ke dalam operasi yang dipimpin AS.
(imf/bac)
Menambahkan

sebagai pilihan
sumber di Google

