Jakarta, Pahami.id —
Amerika Serikat (Amerika Serikat) membuka kantor perwakilannya, konsulat, di Tanah penggembalaan minggu ini.
Namun, pembukaan konsulat seluas 3.000 meter persegi di Kota Nuuk mendapat tentangan dari penduduk Greenland.
Mengutip dari anadolu, Ratusan pengunjuk rasa menggelar aksi unjuk rasa di depan kompleks konsulat, Kamis (21/5).
Beberapa cuplikan aksi di kota Nuuk pun sempat viral. Salah satunya menunjukkan pengunjuk rasa meneriakkan slogan-slogan yang menolak perwakilan Amerika.
“Pulanglah ke AS!” adalah salah satu nyanyian yang dinyanyikan oleh para pengunjuk rasa.
“Kami tidak menginginkan uang Anda,” demikian bunyi tulisan di spanduk yang dibawa para pengunjuk rasa.
“Greenland adalah milik Greenland,” demikian bunyi spanduk lainnya.
Pemimpin pengunjuk rasa, Aqaluluk Fontain, berkata, “Kami tidak ingin menjadi orang Amerika. Kami ingin dihormati dan berdaulat!”
“Kami meminta hak untuk terus eksis tanpa ancaman, tekanan atau fantasi imperialis,” lanjut Fountain.
Resepsi peresmian pos diplomatik tersebut dihadiri oleh para tamu. Namun, Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen menyatakan memutuskan untuk tidak menghadiri peresmian gedung konsulat baru di Nuuk.
Bukan hanya Nielsen, surat kabar lokal Sermitsiaq, juga melaporkan bahwa banyak pejabat dan tokoh yang diundang menolak hadir karena ketegangan setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana untuk mencaplok Greenland.
Salah satu orang yang menolak menerima undangan tersebut adalah anggota parlemen Naaja H Nathanielsen.
Saat ini Greenland merupakan wilayah semi-otonom Denmark, dan sedang memperjuangkan kemerdekaan penuh.
Wilayah di Arktik ini kaya akan sumber daya alam, termasuk mineral yang banyak dicari dunia.
Trump: Halo Greenland
Sementara itu, pada Jumat (22/5), Presiden AS Donald Trump melalui postingan di akun media sosialnya, Truth Social, mengunggah sebuah gambar yang diduga dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI).
Gambar tersebut melihat wilayah Arktik, dan terdapat keterangan gambar atau keterangan: Halo, Greenland.
Duta Besar AS untuk Denmark Ken Howery mengatakan mereka yang menghadiri pembukaan konsulat mengakui bahwa negaranya menolak penggunaan kekerasan. Menurutnya, masa depan Greenland harus ditentukan oleh masyarakat di kawasan itu sendiri.
Terlepas dari jaminan tersebut, pembukaan tersebut menyoroti meningkatnya oposisi masyarakat dan kerusuhan politik terhadap semakin besarnya kehadiran AS di pulau tersebut.’
Konsulat AS di Greenland aktif kembali setelah jeda selama 70 tahun.
“Konsulat baru ini menunjukkan komitmen jangka panjang kami terhadap Greenland,” kata Howery pada upacara pembukaan konsulat.
“Apa pun masa depan yang Anda pilih, kami akan selalu menjadi tetangga dan berdiri di sisi Anda sebagai sekutu dan mitra,” tambahnya.
Utusan Khusus AS untuk Greenland, Jeff Landry yang turut hadir dalam pembukaan konsulat tersebut menjelaskan kunjungannya melalui postingan di akun media sosial X.
“Selama kunjungan kami ke Greenland, kami berkesempatan bertemu dengan Vivian Motzfeldt, Aaja Chemnitz, dan berbagai pemimpin politik dan bisnis untuk membahas kerja sama AS-Greenland di bidang keamanan, pembangunan ekonomi, dan kepentingan strategis bersama di Arktik. Kami menghargai keramahtamahannya dan berharap dapat melanjutkan pembicaraan penting ini dalam beberapa bulan mendatang,” ujarnya di akun X.
(tim/anak-anak)
Menambahkan
sebagai pilihan
sumber di Google

