Berita Lawatan Internasional Pejabat Pakistan Dikritik kala Ekonomi Terpuruk

by
Berita Lawatan Internasional Pejabat Pakistan Dikritik kala Ekonomi Terpuruk


Jakarta, Pahami.id

Krisis ekonomi Pakistan kembali menjadi sorotan di tengah meningkatnya kritik terhadap frekuensi kunjungan pemimpinnya ke luar negeri, yang dianggap tidak sejalan dengan kebijakan penghematan yang diminta masyarakat.

Pakistan saat ini masih menghadapi berbagai tekanan perekonomian, mulai dari krisis devisa, kenaikan harga minyak akibat konflik di Asia Barat, pertempuran berkepanjangan di perbatasan Afghanistan, hingga meningkatnya angka kemiskinan dan pengangguran.

Meski Islamabad telah menerima dua gelombang pinjaman IMF hingga Desember 2025, namun situasi perekonomian disebut belum menunjukkan tanda-tanda stabilisasi berkelanjutan. Pakistan juga mencari pinjaman lain dari Arab Saudi untuk mengatasi kekurangan devisa.


Dalam situasi ini, para pemimpin Pakistan harus fokus pada penerapan langkah-langkah penghematan dan reformasi fiskal. Namun kritik tersebut justru menunjukkan tingginya aktivitas diplomasi luar negeri pemerintah.

Sejak kembali menjabat pada tahun 2024, Perdana Menteri Shehbaz Sharif dikabarkan telah melakukan perjalanan ke sekitar 20 negara dengan total lebih dari 40 kunjungan internasional dalam kurun waktu hampir dua tahun.

Panglima Angkatan Darat Pakistan Marsekal Asim Munir juga disebut aktif melakukan tur diplomatik luar negeri. Secara resmi, kunjungan ini dikatakan bertujuan untuk memperoleh dukungan ekonomi, keamanan, dan kerja sama strategis internasional.

Namun di media sosial Pakistan, ada keraguan mengenai efektivitas dan biaya perjalanan tersebut.

Laporan tahun 2023 mengatakan pemerintah Pakistan menghabiskan sekitar 64 juta rupee untuk perjalanan ke luar negeri, di tengah seruan resmi pemerintah agar masyarakat mengurangi perjalanan yang tidak penting demi langkah penghematan.

“PM meminta masyarakat menghindari perjalanan yang tidak perlu, namun dia sendiri terlihat tidak mengikuti saran tersebut,” kata laporan tersebut.

Kehadiran bersama Shehbaz Sharif dan Asim Munir dalam beberapa kunjungan diplomatik juga memicu perdebatan publik. Sebagian netizen mempertanyakan besarnya peran militer dalam kebijakan luar negeri Pakistan, sementara sebagian lainnya menilai pemerintahan sipil hanya menjadi “boneka” militer.

Serangkaian perjalanan ke luar negeri

Narasi yang berkembang di media sosial menyebut kunjungan tersebut sebagai upaya mengembalikan citra tentara Pakistan di mata masyarakat.

“Masyarakat tidak bisa lagi dibodohi,” tulis salah satu komentar yang dikutip dalam laporan tersebut.

Kritik juga muncul karena kunjungan luar negeri dinilai tidak memberikan dampak nyata terhadap situasi perekonomian masyarakat Pakistan yang masih dirundung inflasi tinggi, utang luar negeri, dan ketergantungan pada bantuan luar negeri.

Masih berdasarkan laporan tahun 2023, salah satu langkah paling mendasar untuk menunjukkan disiplin fiskal harus dimulai dari pengurangan belanja pemerintah sendiri, termasuk perjalanan ke luar negeri yang dinilai berlebihan.

Kunjungan diplomatik Pakistan dikatakan dalam praktiknya lebih seperti “mengetuk pintu” negara lain untuk meminta bantuan keuangan.

“Perjalanan ini tidak murah, padahal tindakan mengetuk pintu untuk mendapatkan bantuan justru membebani kas negara,” tulis laporan itu. Selain faktor ekonomi, beberapa kunjungan juga dinilai memiliki tujuan politik dan gambaran geopolitik.

Ketergantungan pada pinjaman luar negeri

Kunjungan ke Teheran dan upaya menengahi konflik regional, misalnya, disebut-sebut sebagai langkah Pakistan membangun citranya sebagai pemain utama diplomasi regional.

Namun para kritikus mengatakan langkah ini kurang relevan ketika Pakistan sendiri masih menghadapi konflik lintas batas dengan Afghanistan dan ancaman kekerasan dalam rumah tangga.

“Menghabiskan uang untuk stabilitas internasional sambil menghadapi banyak konflik di dalam negeri dianggap sulit dipahami publik,” tulis laporan itu.

Namun, pemerintah Pakistan dikatakan tetap yakin bahwa pendekatan diplomatik yang aktif dapat membantu mendapatkan dukungan keuangan segera dari negara-negara mitra.

Namun para analis memperingatkan bahwa pendekatan seperti itu tidak bisa menjadi solusi jangka panjang tanpa reformasi ekonomi struktural.

Jika pemerintah gagal mengurangi pengeluaran yang tidak produktif dan tetap bergantung pada pinjaman luar negeri, perekonomian Pakistan akan menjadi “banyak kebisingan tanpa substansi”.

(Dna)


Menambahkan

sebagai pilihan
sumber di Google