Jakarta, Pahami.id —
Ketua Parlemen IranMohammad Bagher Ghalibaf, mengucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru 2026.
Pernyataan ini ditulis dalam surat yang ditujukan kepada anggota parlemen Iran yang beragama Kristen.
“Pada saat dunia menghadapi tantangan yang kompleks dan ketegangan yang meningkat, terdapat kebutuhan mendesak untuk memperkuat dialog dan konvergensi antara agama-agama ilahi dan mengambil manfaat dari ajaran para nabi besar sejalan dengan tujuan bersama yaitu hidup berdampingan secara damai, keadilan dan pelestarian martabat manusia,” kata Ghalibaf. Berita Mehr.
Selanjutnya beliau menyampaikan pesan bahwa dialog dan integrasi dapat berperan dalam saling pengertian dan terbentuknya kerja sama yang konstruktif untuk mengurangi ketegangan internasional.
Meski menganut teokrasi Islam, Iran tetap menjamin kebebasan beragama, termasuk perayaan Natal dan Tahun Baru, bagi umat Kristiani di negara itu.
Demonstrasi di Iran
Iran sendiri saat ini sedang mengalami krisis ekonomi dengan melonjaknya harga-harga. Situasi ini menyebabkan para pedagang dan mahasiswa turun ke jalan untuk melakukan demonstrasi besar-besaran.
Kantor berita Iran yang terkait dengan gerakan buruh, Ilna, melaporkan sejumlah mahasiswa berdemonstrasi pada Selasa (30/12) untuk memprotes krisis moneter yang mengguncang negara tersebut.
Demonstrasi digelar di 10 universitas, tujuh di antaranya merupakan kampus bergengsi di ibu kota Teheran.
Reporter AFP menyaksikan pasukan keamanan dan anti huru hara dikerahkan ke persimpangan utama Teheran serta di sekitar beberapa universitas.
Selain di Teheran, demonstrasi juga terjadi di Kota Isfahan, Kota Yazd, dan Kota Zanjan.
Aksi mahasiswa ini terjadi usai para pedagang melakukan demonstrasi besar-besaran pada Senin (29/12) di Teheran. Mereka kecewa dengan anjloknya nilai tukar rial terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang pada Minggu (28/12) mencapai titik terendah sepanjang masa di angka 1,42 juta per dolar.
Menurut surat kabar Etemad, seorang pedagang mengeluh bahwa para pejabat tidak peduli dengan penderitaan para pedagang yang menghadapi kenaikan biaya impor.
“Mereka bahkan tidak menindaklanjuti bagaimana harga dolar mempengaruhi kehidupan kita,” katanya, yang memilih untuk tidak disebutkan namanya.
(membaca)

