Berita Iran Setuju Uranium Dipindah ke Negara Ketiga, Ada Syaratnya

by
Berita Iran Setuju Uranium Dipindah ke Negara Ketiga, Ada Syaratnya


Jakarta, Pahami.id

Iran dikatakan telah setuju untuk mentransfer sejumlah uranium yang diperkaya ke negara ketiga sebagai tanggapan atas proposal tersebut Amerika Serikat untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung sejak Februari.

Seorang sumber yang mengetahui informasi tersebut mengatakan kepada Wall Street Journal seperti dikutip Waktu Selat bahwa Iran akan mengurangi sebagian uranium yang diperkaya dan mengirimkannya ke negara ketiga.


Namun Iran juga mengedepankan syarat yang ketat. Sumber tersebut mengatakan Teheran telah meminta jaminan bahwa uranium yang ditransfer akan dikembalikan jika perundingan gagal. Mereka juga menolak pembongkaran fasilitas nuklir.

Tanggapan Iran terhadap usulan AS memuat beberapa halaman yang bisa berarti kedua belah pihak masih memiliki perbedaan pendapat yang mendalam mengenai program nuklir Teheran.

Sementara itu, sumber Iran membenarkan bahwa Teheran memang menanggapi usulan AS tersebut melalui perantara. Namun, dia tidak merinci lebih lanjut.

Sebelumnya hari ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menegaskan prioritas pemerintah sudah sangat jelas.

“Untuk saat ini, kami memutuskan untuk fokus mengakhiri perang, karena ini melibatkan seluruh kawasan, negara kami, dan komunitas internasional,” ujarnya, dikutip Kantor Berita Tasnim.

Usulan AS termasuk mengizinkan pelayaran di Selat Hormuz untuk mengakhiri sanksi AS terhadap kapal dan pelabuhan Iran dalam bulan depan.

AS dan Iran menyetujui gencatan senjata selama dua minggu yang dimulai pada 8 April dan diperpanjang tanpa batas waktu.

Baik negara maupun mediator terus berusaha mengadakan perundingan lanjutan untuk mencapai gencatan senjata permanen. AS dan Iran mengadakan pembicaraan pada pertengahan April di Pakistan tetapi berakhir dengan kebuntuan.

Topik hangat saat itu adalah program nuklir Iran, Selat Hormuz, dan Lebanon.

Di tengah upaya negosiasi tersebut, Presiden AS Donald Trump terus mengancam Iran. Dia memperingatkan Washington mungkin “mengambil jalan berbeda” jika semuanya tidak ditandatangani dan diselesaikan.

Sejumlah pemberitaan media menduga langkah Trump adalah meluncurkan kembali Project Freedom. Operasi tersebut bertujuan untuk mematahkan cengkeraman maritim Iran dan AS akan mengawal kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz.

Timur Tengah sedang bergejolak setelah Amerika Serikat dan sekutu dekatnya Israel menyerang Iran pada 28 Februari. Teheran membalasnya dengan menyerang Israel dan aset militer AS di negara-negara Teluk.

Iran juga menutup Selat Hormuz pada 2 Maret sebagai upaya menekan AS dan Israel.

(membaca)


Menambahkan

sebagai pilihan
sumber di Google