Jakarta, Pahami.id —
Otoritas Iran Direktur televisi regional Hamoun dipecat setelah salah satu reporternya menerbitkan narasi yang menentang pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Media televisi nasional memberitakan pemecatan tersebut pada Rabu (10/12).
“Direktur penyiaran saluran TV regional Hamoun telah dipecat menyusul kesalahan pada jaringan regional tersebut,” kata laporan itu. AFP.
Mereka juga melaporkan bahwa operator transmisi dan pemantauan siaran telah ditangguhkan. Tak hanya itu, staf lain yang terbukti bersalah juga dirujuk ke komite disiplin.
“Keputusan ini diambil untuk menjaga disiplin profesional dan melindungi reputasi media,” lanjut laporan itu.
Pemecatan itu bermula ketika jurnalis Musab Rasoulizad memberitakan secara langsung peringatan 47 tahun Revolusi Islam Iran di Provinsi Sistan-Baluchistan.
Ia menggambarkan banyaknya peserta demonstrasi dan teriakan “Allahuakbar”.
Lalu, Rasoulizad berkata “Marg bar Khamenei (matilah Khamenei).” Ungkapan ini jarang terdengar dalam demonstrasi pro-pemerintah, yang biasanya meneriakkan “Matilah Amerika”, “Matilah Israel”.
Dalam video terpisah, Rasoulizad meminta maaf atas kejadian tersebut. Ia menyebut kejadian tersebut sebagai “kesalahan bicara dan kekeliruan yang disiarkan dan menjadi alasan bagi kelompok anti-revolusioner.”
Pada peringatan Revolusi Islam Iran, warga di berbagai daerah juga menggelar demonstrasi. Para pengunjuk rasa di Teheran meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah.
“Matilah Khamenei!”
“Matilah sang diktator!”
“Matilah Republik Islam,” kata pengunjuk rasa.
Jeritan itu terdengar saat pihak berwenang menyalakan kembang api untuk memperingati ulang tahun Bahman yang ke-22, ketika pemimpin Shah mengundurkan diri dan digantikan oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Sementara itu, Duta Besar Iran Mohammad Boroujerdi mengatakan jutaan orang turun ke jalan untuk memperingati ulang tahun Revolusi Islam dan mendukung pemerintah.
“Anda bisa melihat jutaan orang akan turun ke jalan besok pagi untuk menunjukkan dukungannya kepada pemerintah Republik Islam Iran,” ujarnya, Selasa sore di Jakarta.
Peringatan ini terjadi setelah masyarakat Iran menggelar demonstrasi massal sejak Desember tahun lalu.
Demonstrasi awalnya memprotes inflasi yang meroket dan berlangsung damai. Namun demonstrasi menjadi ricuh ketika fasilitas umum mulai dibakar.
Pemerintah Iran menuduh agen-agen Israel dan AS menyusup ke dalam demonstrasi dan dengan sengaja mengganggu demonstrasi tersebut. Mereka kemudian bersikeras bahwa mereka tidak akan mentolerir pengunjuk rasa yang menyebabkan kerusakan.
Menurut berbagai laporan, pihak berwenang Iran menahan ribuan pengunjuk rasa. Sekitar 5.000 orang juga tewas dalam demonstrasi tersebut.
(isa/rds)

