Berita Hilal 1 Ramadan 1447 H Tak Terlihat di 96 Titik Wilayah Indonesia

by
Berita Hilal 1 Ramadan 1447 H Tak Terlihat di 96 Titik Wilayah Indonesia


Jakarta, Pahami.id

Pengamatan bulan atau rukyatul hilal awal Ramadan 1447 Hijriah yang dilaksanakan di 96 titik seluruh Indonesia tidak membuahkan hasil. Bulan sabit dinyatakan tidak terlihat.

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan belum ada pihak yang melaporkan melihat posisi bulan oleh petugas yang ditempatkan di 96 titik pengamatan di Indonesia.

Belum ada laporan posisi bulan terlihat, kata Nasaruddin pada Penentuan Awal Ramadhan 1447 H, di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (17/2).


Menag juga menjelaskan posisi hilal berdasarkan perhitungan atau perhitungan. Menurut dia, posisi bulan di Indonesia secara keseluruhan masih berada di bawah ufuk.

Adapun posisi hilal di seluruh Indonesia, ketinggiannya berkisar -2 derajat 24 menit 42 detik, artinya… hilal belum terlihat, masih di bawah ufuk, sampai 0 derajat 58 menit 47 detik. Jadi di seluruh kepulauan Indonesia, bahkan Asia Tenggara, bahkan pemerintah yang sedang dibicarakan, di semua negara Islam belum ada yang tumbang karena belum ada satu pun negara Islam. Masih di bawah ufuk, ”Nasaruddin.

Ia juga mengatakan, berdasarkan bulan sabit global versi Turki, awal Ramadhan tidak akan dimulai pada Rabu (18/2).

“Dalam penentuan awal bulan penanggalan Indonesia menggunakan MABIMS visibilitas bulan yaitu tinggi bulan (minimal) 3 derajat dan sudut elongasi 64 derajat, itu standarnya,” ujarnya.

“Dengan demikian, berdasarkan hasil perhitungan dan tidak adanya laporan hilal, disepakati 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada hari Kamis tanggal 19 Februari,” tambah Nasaruddin.

Ada perbedaan pada 1 Ramadhan 1447 Hijriah tahun ini antara pemerintah dan Muhammadiyah.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026 besok.

Muhammadiyah secara resmi menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada tanggal 18 Februari M sebagaimana tertuang dalam Pernyataan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 dan Penjelasan Majelis Tarjih dan Tajdid Nomor 01/MLM/I.1/B/2025.

Penetapan ini menggunakan Kalender Tunggal Hijriah Sedunia (KHGT) sebagai metode baru yang kini menjadi acuan resmi Muhammadiyah. Ini menggantikan metode bulan sabit yang digunakan sebelumnya.

Penerapan KHGT memerlukan keterpaduan tiga unsur utama yang dikenal dengan Prinsip, Kondisi, dan Parameter (PSP).

Salah satu parameter penting adalah terpenuhinya posisi bulan sabit setelah ijtimak dengan ketinggian minimal 5 derajat dan perpanjangan 8 derajat di mana saja di permukaan bumi, tidak terbatas pada suatu wilayah tertentu.

(Minggu/Senin)