Jakarta, Pahami.id —
KH Ahmad Hanafiah (1905-1947) adalah seorang ulama asal Sukadana, Lampung Timur yang gugur dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Seorang laki-laki yang alim dalam ilmu agama, sekaligus pejuang di medan perang, dibunuh penjajah di Sungai Ogan, sekitar Baturaja. Ia disebut-sebut disiksa sebelum diikat dalam karung dan kemudian ditenggelamkan di Sungai Ogan tak jauh dari Pangkalan Angkatan Darat Belanda di Baturaja.
Atas perjuangannya mempertahankan kemerdekaan tanah air, negara kemudian mengangkatnya sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2023.
KH Ahmad Hanafiah tidak hanya mengajarkan kalam Allah SWT hingga Sunnah Nabi, namun juga menyebarkan semangat nasionalisme untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang baru-baru ini dicanangkan sebagai bagian dari resolusi jihad.
Kajian sejarah yang dilakukan akademisi Universitas Raden Intan Lampung, Aan Budianto, diterbitkan dalam El Tarikh: Jurnal Sejarah, Kebudayaan dan Peradaban Islam (2023), menyimpulkan”Semangat juang yang dilakukan oleh tim Golok yang dipimpin oleh KH. Ahmad Hanafiah yang berasal dari pesantren atau kelompok pejuang Islam dilatarbelakangi oleh semangat jihad dan juga semangat cinta tanah air.“
KH Ahmad Hanafiah merupakan anak pertama dari KH Muhammad Nur, lahir di Sukadana (sekarang Kabupaten Lampung Timur). Keluarganya adalah pendiri Pondok Pesantren Istishodiyah – pondok pesantren pertama di Lampung saat itu.
Tumbuh di lingkungan yang religius, Ahmad sudah mengenal pendidikan agama sejak kecil. Setelah menimba ilmu di pesantren yang dibesarkan oleh ayahnya, ia melanjutkan perjalanannya ke pesantren lainnya, yang puncaknya adalah menunaikan ibadah haji sambil belajar agama di Mekkah.
Mengutip dari NU DaringAhmad Hanafiah muda dalam perjalanan ke Mekkah singgah di India dan belajar ilmu ketertiban.
Ia tiba di Tanah Suci pada tahun 1930, dan menetap belajar agama di sana hingga tahun 1936. Dalam catatan sejarah, ia pernah menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Islam Lampung di kota Mekkah, Arab Saudi selama dua tahun. Di Mekkah, ia tidak hanya berceramah, namun juga mengajarkan ilmu-ilmu Islam di Masjidil Haram.
Sekembalinya ke Indonesia, Ahmad Hanafiah aktif menjadi dai di Lampung dan menjadi Ketua Serikat Buruh Islam (SDI) di daerah Kawedanan Sukadana pada tahun 1937-1942.
Semasa hidupnya, ia tercatat memiliki beberapa pengalaman. Pada masa penjajahan Jepang, Ahmad Hanafiah tercatat menjadi anggota Chuo sangi kai di Karesidenan Lampung pada tahun 1945-1946.
Pada awal tahun 1947, ia menjadi Wakil Kepala merangkap Kepala Urusan Agama pada Kantor Urusan Agama Karesidenan Lampung.
Perjuangan Melawan Penjajah
Invasi Belanda yang terjadi pada tahun 1947 melancarkan serangan serentak di beberapa wilayah di Indonesia, salah satunya Sumatera Selatan. Saat itu Belanda mulai menyerang Lampung yang masih menjadi bagian Keresidenan Sumatera Selatan melalui jalur darat dari Palembang.
Mereka mendapat perlawanan dari TNI namun akhirnya Kota Baturaja dikuasai Belanda. Agresi yang terjadi berujung pada perlawanan pasukan rakyat bersama TNI melawan Belanda di hadapan Belanda di Kemarung yang merupakan suatu tempat di hutan lebat yang terletak di dekat Baturaja arah Martapura, Sumatera Selatan.
Pertandingan antara tim rakyat melawan Belanda pun berlangsung di sana. Perlawanan tentara rakyat diikuti oleh Hizbullah dan Sabilillah yang bersenjatakan parang.
Rencana TNI dan Hizbullah menyerang Baturaja bocor. Oleh karena itu, para anggota TNI mundur ke Martapura, sedangkan prajurit Hizbullah yang sedang beristirahat di Kemarung disergap Belanda sehingga memicu pertempuran.
Banyak anggota Hizbullah ditangkap dan dibunuh. Sedangkan Ahmad Hanifah ditangkap hidup-hidup. Ia dikabarkan disiksa untuk memberikan informasi tentang kekuatan pasukan tempur, hingga akhirnya dieksekusi di Sungai Ogan.
Artikel ini merupakan rangkaian kisah para cendekiawan, tokoh dan ulama yang menjadi Pahlawan Nasional Indonesia yang dimuat CNNIndonesia.com pada Ramadhan 1447 Hijriah.
(nat/anak)

