Berita Dubes AS di Prancis Besan Trump Dilarang Ikut Rapat Gegara Bikin Ulah

by
Berita Dubes AS di Prancis Besan Trump Dilarang Ikut Rapat Gegara Bikin Ulah


Jakarta, Pahami.id

menantu presiden Donald Trump yang juga Duta Besar Amerika Serikat untuk Perancis Charles Kushner dilarang bertemu dengan pemerintahan Emmanuel Macron di tengah ketegangan hubungan antara kedua negara.

Insiden ini bermula setelah Biro Kontra Terorisme Departemen Luar Negeri AS mengomentari kerusuhan yang sedang berlangsung di Prancis. Mereka mengatakan kematian aktivis sayap kanan Quentin Deranque (23) perlu perhatian dunia.


“Laporan, yang didukung oleh Menteri Dalam Negeri Prancis, bahwa Quentin Deranque dibunuh oleh milisi sayap kiri, seharusnya membuat kita khawatir,” kata biro tersebut dalam pernyataannya pekan lalu, dikutip CNN.

“Kekerasan radikal sayap kiri sedang meningkat dan perannya dalam kematian Quentin Deranque menyoroti ancaman yang ditimbulkannya terhadap keselamatan publik,” tambah mereka.

Kementerian Luar Negeri Prancis kemudian menelepon Kushner untuk meminta penjelasan mengenai hal tersebut. Namun, dia tidak menjawab panggilan tersebut.

“Dia tidak muncul,” kata salah satu pejabat pada hari Senin.

Karena ketidakhadirannya, Kushner akhirnya dilarang bertemu dengan pejabat Prancis mana pun.

Pejabat itu mengatakan Menteri Luar Negeri Jean-Noel Barrot meminta agar dia tidak lagi diberi akses langsung ke anggota pemerintah Prancis.

Barrot juga menegaskan pemerintah baru akan mencabut larangan tersebut jika Kushner memberikan penjelasan.

“Setelah penjelasan ini diberikan, tentu saja duta besar AS di Prancis bisa bertemu kembali dengan anggota pemerintah Prancis,” kata Barrot dalam wawancara dengan France Info pada Selasa (24/2) pagi, dikutip NBC.

“Sampai saat itu tiba, pelarangan terhadap Kushner tentu akan mempengaruhi kemampuannya dalam menjalankan misinya di negara kita,” tambahnya.

Kushner baru memberikan klarifikasi pada Selasa malam. Salah satu pejabat mengatakan ayah mertua Trump menghubungi Barrot dan mengonfirmasi posisinya.

Prancis, kata sumber itu menurut Barrot, mengatakan pemerintah tidak akan menerima campur tangan atau manipulasi debat publik nasionalnya.

“Duta Besar menyatakan hal itu, dan menyatakan keinginannya untuk tidak ikut campur dalam debat publik kami,” kata pejabat itu.

Secara historis, duta besar AS yang ditempatkan di negara sahabat bertugas menenangkan perselisihan yang muncul. Namun, utusan Trump untuk Eropa semakin menjadi pusat kontroversi.

Ketegangan antara Perancis dan AS memuncak ketika aktivis sayap kanan Quentin Deranque (23) meninggal karena cedera otak. Dia dipukuli ketika kekerasan terjadi di Lyon.

(isa/bac)