Berita Dua Provinsi Pakistan Dilanda Kekerasan Terparah dalam Satu Dekade

by
Berita Dua Provinsi Pakistan Dilanda Kekerasan Terparah dalam Satu Dekade


Jakarta, Pahami.id

Data terbaru dari Center for Security Research and Studies (CRSS) menunjukkan paradoks keamanan di Pakistan.

Meskipun terjadi penurunan taktis dalam serangan lintas batas setelah penutupan beberapa titik penyeberangan Jalur Durand pada bulan Oktober 2025, negara ini mencatat tahun terburuknya dalam satu dekade.

Terorisme sangat terkonsentrasi di dua wilayah perbatasan, yaitu Khyber Pakhtunkhwa (KP) dan Balochistan, yang juga merupakan wilayah utama bagi sektor energi dan pertambangan Pakistan.


Di tingkat nasional, tingkat kekerasan di Pakistan meningkat hampir 34 persen setiap tahunnya, dengan jumlah kematian meningkat dari 2.555 orang pada tahun 2024 menjadi 3.417 orang pada tahun 2025. Tren ini memperpanjang peningkatan stabil selama lima tahun sejak kembalinya Taliban berkuasa di Afghanistan pada tahun 2021.

Sejak itu, terjadi lonjakan dua digit setiap tahunnya, termasuk peningkatan sekitar 56 persen pada tahun 2023, hampir 67 persen pada tahun 2024, dan peningkatan lainnya sebesar 34 persen pada tahun 2025. Pola tersebut menunjukkan peningkatan struktural, bukan penurunan sesaat.

Perbatasan Afganistan-Pakistan

Sebagian besar kekerasan terjadi di wilayah KP dan Balochistan, yang secara keseluruhan menyumbang lebih dari 96 persen total kematian dan hampir 93 persen insiden kekerasan di negara tersebut pada tahun 2025. Wilayah KP adalah wilayah yang paling terkena dampaknya, dengan jumlah kematian melonjak 44 persen dari 1.620 orang pada tahun 2024 menjadi 2.331 orang pada tahun 2.331.

Sedangkan Balochistan mencatat peningkatan korban dari 787 orang menjadi 956 orang atau meningkat hampir 22 persen. Kedua wilayah ini merupakan tulang punggung potensi pembangkit listrik tenaga air, koridor energi lintas negara, mineral penting, serta proyek infrastruktur energi tembaga-emas, batu bara, dan pesisir.

CRSS mencatat setelah Pakistan menutup perbatasannya dengan Afghanistan pada 11 Oktober 2025, jumlah serangan teroris turun hampir 17 persen pada bulan Desember, menyusul penurunan sekitar 9 persen pada bulan November.

Korban warga sipil dan aparat keamanan juga dilaporkan mengalami penurunan masing-masing sekitar 4 persen dan 19 persen selama periode tersebut. Namun penurunan jangka pendek ini dianggap terbatas secara strategis karena tidak dapat mengimbangi lonjakan kekerasan sepanjang tahun.

TTP dan ISIS

Dari segi sasaran, aparat keamanan masih menjadi sasaran utama kelompok militan sepanjang tahun 2025. Angkatan Darat dan Korps Perbatasan Pakistan mencatat 374 orang tewas, termasuk 22 petugas, sedangkan polisi kehilangan 216 personel.

Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) adalah kelompok yang mengklaim serangan terbanyak terhadap pasukan keamanan, diikuti oleh Tentara Pembebasan Balochistan (BLA), Front Pembebasan Baloch (BLF), dan afiliasi regional ISIS (ISIS). Kelompok ini diketahui secara teratur menargetkan infrastruktur strategis, proyek-proyek terkait Tiongkok, dan simbol-simbol nasional.

Laporan CRSS juga menyebut tahun 2025 sebagai tahun paling mematikan bagi kelompok militan dalam satu dekade, dengan lebih dari 2.060 militan tewas dalam setidaknya 392 operasi keamanan. Meski menunjukkan intensitas operasi negara, tingginya jumlah korban di kedua belah pihak mencerminkan lingkungan konflik yang masih cair dan penuh aksi pembalasan, bukan konsolidasi kontrol keamanan yang stabil.

Bagi investor, situasi ini menegaskan bahwa penutupan perbatasan Afghanistan lebih merupakan langkah taktis dibandingkan solusi strategis.

Peningkatan kekerasan tahunan yang konsisten sejak tahun 2021 dan konsentrasi konflik di Kalimantan Tengah dan Balochistan menunjukkan bahwa risiko keamanan jangka panjang, terutama untuk proyek energi dan pertambangan dengan siklus investasi selama beberapa dekade, masih tinggi dan sulit diprediksi.

(Dna)