Berita DPR Soroti Penguatan Industri Pertahanan dan Konsistensi Kebijakan RI

by
Berita DPR Soroti Penguatan Industri Pertahanan dan Konsistensi Kebijakan RI


Jakarta, Pahami.id

Anggota Komisi I DPR RIAmelia Anggraini menilai industri tersebut menguat pertahanan Anggaran nasional tidak hanya bergantung pada besarnya anggaran, namun juga pada konsistensi kebijakan jangka panjang dan dukungan pendanaan berkelanjutan dari pemerintah.

Amelia mengatakan melalui Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan, negara mengamanatkan penggunaan produk dalam negeri, transfer teknologi, dan skema perlakuan istimewa. keseimbangan dalam setiap pengadaan di luar negeri.

Selain itu, pemerintah menciptakan pasar captive melalui belanja TNI sehingga industri nasional mempunyai kepastian permintaan.


“Pemerintah berperan penting sebagai regulator, fasilitator, dan pembeli utama produk pertahanan nasional. Peran ini penting dalam menjaga kelangsungan produksi industri dalam negeri,” ujarnya mencontohkan. di antaraMinggu (15/2)

Dia mengusulkan program modernisasi listrik melalui skema tersebut Daya Minimum yang Dibutuhkan (MEF) yang saat ini sedang bergeser ke arah Kekuatan Vital Optimal (OEF) harus menjadi instrumen strategis untuk menjamin keberlanjutan industri pertahanan dalam negeri.

Meski demikian, penguatan industri pertahanan nasional menghadapi beberapa tantangan struktural, terutama dari sisi pembiayaan.

Industri ini sering dianggap berisiko tinggi karena padat modal, memiliki siklus produksi dan pembayaran yang panjang, serta bergantung pada alokasi APBN.

Selain itu, karakteristik aset industri pertahanan yang sangat spesifik membuat aset tersebut tidak selalu memenuhi kriteria”dapat dibankkansebagai jaminan kredit. Kondisi ini membuat dukungan perbankan, termasuk dari bank-bank BUMN, masih sangat terbatas.

Beberapa bank milik negara sudah mulai masuk melalui skema kredit modal kerja berbasis kontrak (contract-based financing) pemerintah dan pembiayaan proyek-proyek tertentu seperti galangan kapal. Namun skala tersebut dinilai belum cukup signifikan untuk mendorong akselerasi industri secara keseluruhan.

Di sisi lain, belanja pertahanan TNI menciptakan “captive market” yang memberikan kepastian permintaan industri dalam negeri. Kepastian pasar menjadi elemen penting dalam membangun keberlanjutan investasi jangka panjang.

Amelia menegaskan, tantangan utama industri pertahanan nasional saat ini bukan sekedar kapasitas produksi, melainkan konsistensi kebijakan jangka panjang, keberanian investasi teknologi, dan integrasi BUMN dan BUMS dalam rantai pasok nasional yang kuat.

“Jika konsistensi kebijakan, dukungan pendanaan, dan integrasi ekosistem industri dapat dipertahankan, maka kemandirian industri pertahanan tidak hanya realistis, tetapi juga strategis dalam memperkuat posisi Indonesia dalam arsitektur keamanan regional,” ujarnya.

Beberapa perusahaan strategis pelat merah seperti PT Pindad, PT PAL Indonesia, dan PT Dirgantara Indonesia menunjukkan peningkatan kapasitas produksi, mulai dari kendaraan taktis, kapal perang, hingga pesawat CN-235 dan NC-212 dengan peningkatan kandungan lokal.

Selain BUMN, peran industri pertahanan swasta dalam negeri pun semakin menonjol. Investigasi terhadap rantai pasokan menunjukkan bahwa beberapa perusahaan swasta tidak lagi hanya menjadi pemasok komponen, namun telah memasuki tahap manufaktur presisi dan integrasi sistem.

Salah satu contohnya adalah PT Nanggala Kencana Rekatama Indonesia (NKRI) yang berpusat di Bandung. Perusahaan ini murni merupakan badan swasta yang telah memperoleh izin resmi dari Kementerian Pertahanan untuk memproduksi komponen pertahanan tertentu.

Republik Indonesia memproduksi selongsong peluru, amunisi, dan komponen mekanis presisi yang digunakan dalam sistem senjata, platform kendaraan taktis, kapal, dan komponen struktural tertentu.

RI disebut telah menerima usulan Kementerian Pertahanan untuk pengembangan kapasitas produksi alutsista lengkap, dengan tetap berada dalam koridor pengaturan dan pengawasan negara.

Perusahaan swasta lain seperti PT Republik Defensindo juga menunjukkan peningkatan kapasitas. Perusahaan ini memproduksi kendaraan militer khusus, termasuk kendaraan taktis 4×4 (rantis), truk pengangkut personel, dan prototipe kendaraan amfibi pelacak.

Kerjasama antar BUMN sebagai kontraktor utama Dan integrator sistem dengan BUMS sebagai pemasok subsistem, material komposit, elektronik militer hingga teknologi tanpa awak dan siber, membentuk ekosistem industri pertahanan nasional yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Dengan dinamika geopolitik yang semakin kompleks, tambah Amelia, arah kebijakan yang konsisten dan dukungan finansial yang memadai merupakan prasyarat mutlak bagi industri pertahanan tanah air untuk mampu bertransformasi dari sekedar memenuhi kebutuhan dalam negeri menjadi pemain regional yang kompetitif.

(antara/antara)