Jakarta, Pahami.id —
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal menyoroti tingginya frekuensi kunjungan Presiden ke luar negeri Prabu Subianto sejak menjadi kepala negara. Kunjungan Prabowo ke Prancis beberapa hari lalu dinilai mengejutkan dan disorot publik. Padahal Prabowo baru berangkat ke Prancis pada April dan Januari lalu.
Menurut Dino, pola perjalanan ini menarik perhatian masyarakat dan mengemukakan beberapa saran, mulai dari mengurangi kunjungan hingga menggunakan diplomasi virtual.
Pandangan tersebut disampaikan Dino dalam unggahan video reel Instagram yang ditujukan kepada Prabowo. Ia mengaku merasa mempunyai tanggung jawab moral untuk menyampaikan pandangannya mengenai politik luar negeri Indonesia.
“Presiden menganugerahkan kepada saya Bintang Mahaputera, artinya bapak mempercayai kredibilitas dan pandangan saya terhadap politik luar negeri. Oleh karena itu, saya juga merasa mempunyai tanggung jawab moral untuk menjalankan amanah apa adanya,” kata Dino dalam video tersebut, Sabtu (30/5).
Dino mengimbau agar Prabowo mengurangi frekuensi kunjungan ke luar negeri secara signifikan dan tidak meremehkan suara masyarakat terkait hal tersebut.
“Dalam perhitungan kami, dari seluruh pemimpin dunia, Presiden Prabowo menjadi kepala negara yang paling banyak bepergian ke luar negeri. Sejak menjadi presiden, beliau menghabiskan satu dari enam hari di luar negeri dan tidak mengherankan jika ada yang menganggap hal tersebut tidak biasa dan melebihi batas normal,” tuturnya.
Diakui Dino, sulit membayangkan Prabowo terus melakukan perjalanan ke luar negeri dengan intensitas seperti sekarang hingga 18 bulan ke depan.
Ia juga menekankan besarnya biaya yang harus ditanggung negara dalam setiap kunjungan kepala negara ke luar negeri. Menurut dia, biaya tersebut meliputi tim pendahulu, pesawat, hotel, logistik, makanan, protokoler, keamanan, dan tunjangan harian delegasi.
“Satu kali perjalanan ke luar negeri bisa menghabiskan biaya puluhan, bahkan ratusan miliar,” ujarnya.
Dino menilai, Prabowo lebih bergantung panggilan video, panggilan telepon, atau pertemuan virtual untuk menjaga komunikasi dengan para pemimpin dunia.
Menurutnya, pembahasan utama dalam kunjungan bilateral biasanya hanya berlangsung satu hingga dua jam, sedangkan sebagian besar agenda lainnya bersifat seremonial.
“Jadi dengan satu panggilan video “yang bernilai Rp0, negara bisa menghemat ratusan miliar perjalanan ke luar negeri dan hasilnya dari segi materi juga kurang lebih sama,” ujarnya.
Ia meyakini langkah ini juga bisa menjawab persepsi sebagian pihak yang menilai perjalanan Presiden ke luar negeri cenderung boros dan menyerupai agenda jalan-jalan.
Dino mencontohkan Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum yang disebut-sebut telah berkomunikasi melalui telepon dengan Presiden AS Donald Trump sebanyak 17 kali tanpa mengadakan pertemuan bilateral secara langsung.
Selain mengurangi perjalanan dua arah, Dino juga menyarankan agar Kepala Negara memaksimalkan kesempatan bertemu pemimpin negara lain saat menghadiri forum internasional.
Menurutnya, forum seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), G20, ASEAN, dan World Economic Forum bisa dimanfaatkan untuk menyelenggarakan banyak pertemuan bilateral sekaligus.
Ia bahkan mengusulkan konsep ‘1 plus 8’ yakni menghadiri forum internasional sambil mengadakan setidaknya delapan pertemuan dengan kepala negara atau kepala pemerintahan lain yang hadir.
Dino mengaku mendengar Prabowo meminta pertemuan dengan beberapa pimpinan negara namun belum mendapat tanggapan.
Dino juga menyoroti beberapa perjalanan ke luar negeri yang menurutnya dilakukan secara spontan tanpa informasi yang cukup kepada masyarakat.
Oleh karena itu, dia menyarankan agar agenda kunjungan Presiden direncanakan dan dipetakan terlebih dahulu. Menurut dia, pihak Istana perlu mengumumkan rencana tur tersebut setidaknya sebulan atau paling lambat seminggu sebelum pemberangkatan.
Kunjungan Presiden ke Pakistan dan Rusia saat terjadi bencana banjir di Sumatera misalnya, dilakukan tanpa memberikan informasi apapun kepada masyarakat sebelum berangkat. Prinsip akuntabilitas dan transparansi juga perlu diterapkan karena seringkali masyarakat tidak mengetahui keberadaan Presiden di luar negeri, ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Dino juga menyarankan agar tahun depan Prabowo lebih banyak menerima kunjungan kepala negara asing di Indonesia dibandingkan bepergian ke luar negeri.
Hal itu dilakukan Presiden China Xi Jinping yang lebih sering menerima tamu negara di Beijing.
Selain itu, Dino menyarankan agar sebagian besar misi diplomatik taktis bisa dilimpahkan kepada Menteri Luar Negeri Sugiono. Biaya kunjungan menteri jauh lebih kecil dibandingkan kunjungan presiden karena jumlah delegasi yang berpartisipasi lebih terbatas.
Dino menegaskan, seluruh pandangan yang disampaikannya merupakan cerminan aspirasi segelintir pihak yang menginginkan anggaran negara digunakan lebih efisien.
“Apa yang saya sampaikan di sini adalah menyampaikan perasaan sebagian besar orang yang hati nuraninya bersih,” ujarnya.
Menurut dia, masyarakat saat ini mengharapkan lebih adanya kepekaan dan kewajaran dalam penggunaan anggaran negara, termasuk untuk agenda perjalanan ke luar negeri.
“Masyarakat mengharapkan pemimpinnya menunjukkan kepekaan dan kesopanan saat bepergian ke luar negeri,” kata Dino.
Jawab Bakom
Sementara itu, Kepala Badan Hubungan Pemerintah (Bakom) Muhammad Qodari mengatakan pemerintah mengapresiasi aspirasi dan saran yang diberikan Dino.
Qodari mengatakan, kunjungan kerja Prabowo ke luar negeri selalu mengedepankan asas kemaslahatan bagi bangsa dan negara. Ia mencontohkan perjalanan kerja baru-baru ini ke Prancis.
Menurut dia, kunjungan kerja tersebut sudah direncanakan sejak lama dan membahas berbagai kerja sama strategis di bidang pertahanan, pendidikan, dan energi.
“(Kunjungan) ke Prancis sudah direncanakan sejak lama dan banyak aspek kerja sama yang dibahas di sana, mulai dari alutsista hingga logam langka,” kata Qodari di Jakarta, Minggu (31/5).
Qodari mengatakan, kunjungan kerja ini juga dilakukan untuk mempererat silaturahmi antar pemimpin negara. Menurutnya, kedekatan tersebut dapat membantu Indonesia memperoleh dukungan dalam berbagai isu strategis.
“Karena ketika kita membutuhkan dukungan dalam hal-hal penting, kita bisa mendapatkannya, sedangkan negara lain belum tentu bisa mendapatkannya,” kata Qodari.
Qodari mengatakan, pemerintah sebelumnya telah menguraikan sejumlah target kerja sama yang ingin dicapai dalam kunjungan tersebut, mulai dari pertahanan, pendidikan, energi, dan pemanfaatan mineral kritis.
Yang pertama di bidang pertahanan, karena kita tahu bersama bahwa pemerintah Indonesia telah mengakuisisi beberapa sistem persenjataan atau alutsista utama dari Perancis. Oleh karena itu, diperlukan transfer teknologi untuk menguasai alutsista tersebut, ujarnya.
Selain itu, pemerintah juga mendorong penguatan kerja sama pendidikan di bidang tersebut sains, teknologi, teknik, dan matematika (TANGKAI).
“Jadi bukan sekedar membeli, tapi juga transfer teknologi,” kata Qodari.
Dari kunjungan ini, Indonesia dan Perancis menyelesaikan beberapa perjanjian baru senilai US$3,5 miliar atau sekitar Rp. 61,25 triliun.
Empat kesepakatan yang dihasilkan dari kunjungan Prabowo ke Prancis:
1. KADIN dan MEDEF Internasional
Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) bersama MEDEF Internasional meluncurkan French-Indonesian High Level Business Council (FI-HLBC).
Forum tersebut akan menjadi forum dialog tingkat tinggi antara pengusaha kedua negara untuk melindungi investasi dan perdagangan bilateral.
Melalui forum ini, Indonesia dan Perancis menargetkan peningkatan nilai perdagangan bilateral hingga tiga kali lipat pada tahun 2035 dari posisi saat ini sebesar US$2,6 miliar.
2.Pertamina dan SLB/PT Schlumberger Geofizik Nusantara
PT Pertamina berkolaborasi dengan SLB/PT Schlumberger Geofizik Nusantara untuk mengembangkan teknologi migas dan energi bersih.
Kolaborasi tersebut meliputi implementasi enhancement oil recovery (EOR), pengembangan migas nonkonvensional, digitalisasi berbasis kecerdasan buatan (AI), hingga program penurunan emisi karbon melalui penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS), efisiensi energi, dan pengembangan panas bumi.
3.Pertamina dan TotalEnergies
Pertamina juga menandatangani perjanjian dengan perusahaan energi Perancis, TotalEnergies.
Kerja sama ini mencakup sektor hulu migas, LNG, perdagangan energi, biofuel, energi terbarukan, dan bisnis rendah karbon.
Kedua perusahaan juga akan menjajaki pengembangan kilang ramah lingkungan, proyek energi terbarukan, CCS/CCUS, dan berbagai proyek energi masa depan lainnya.
4. Danantara dan Thales
Danantara melalui PT Len Industri mengkonfirmasi Letter of Intent (LoI) dengan perusahaan pertahanan Perancis, Thales, untuk melanjutkan proyek industri pertahanan.
Kerja sama tersebut meliputi rencana pembangunan pabrik radar “Made in Indonesia”, pengembangan data link taktis, sistem komando dan kendali, fasilitas pemeliharaan, serta pelatihan radar.
Proyek ini juga merupakan bagian dari upaya transfer teknologi yang sebelumnya menjadi salah satu target utama pemerintah dalam kerja sama pertahanan dengan Perancis.
(del/sur)
Menambahkan
sebagai pilihan
sumber di Google

