Jakarta, Pahami.id —
Aset militer Amerika Serikat (AS) berdiri di dekatnya Iran di tengah ancaman pecahnya perang dengan negara tersebut.
Kapal perusak, jet tempur, dan kapal induk AS telah ‘mengepung’ Iran, yang berpacu dengan waktu karena tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS. Donald Trump.
Pada Jumat (30/1), Trump memberikan tenggat waktu kepada Iran untuk segera mencapai kesepakatan mengenai program nuklirnya. Trump menuntut Iran berhenti mengembangkan rudal nuklir dan balistik, jika tidak ingin diserang.
Sejak Senin (26/1), kapal induk AS USS Abraham Lincoln dikabarkan mulai beroperasi di Timur Tengah. Kapal yang berlayar dari Asia Pasifik itu didampingi tiga kapal perusak yang dilengkapi puluhan rudal Tomahawk.
Posisi USS Abraham Lincoln saat ini berada di Laut Arab bagian utara, menurut citra satelit.
Laporan dari CNNAbraham Lincoln mendatangkan angkatan udara yang mencakup satu skuadron jet tempur F/A-18E Super Hornet, pesawat tempur F-35C Lightning II, dan pesawat perang elektronik EA-18G Growler.
Kekuatan tempur Abraham Lincoln juga diperkuat oleh tiga kapal perang pesisir di Bahrain, yakni USS Santa Barbara, USS Canberra, dan USS Tulsa.
Ketiga kapal tersebut dapat dipanggil untuk menyapu ranjau jika Teheran menggunakan senjata tersebut.
Dalam beberapa hari terakhir, AS juga mengerahkan beberapa sistem pertahanan udara ke Timur Tengah, yakni tambahan sistem Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) dan sistem rudal Patriot. Kedua sistem tersebut saat ini berada di Pangkalan Udara Al Udeid AS di Qatar.
Sistem ini akan menjadi kunci pertahanan rudal Iran jika Teheran bermaksud menargetkan aset militer AS atau sekutunya di wilayah tersebut.
Pada Kamis (29/1), pesawat EA-11A juga mendarat di Pangkalan Udara Al Udeid. Jet-jet ini dibutuhkan oleh AS untuk mengoordinasikan operasi yang kompleks.
Pada hari yang sama, sebuah pesawat kargo modifikasi yang dirancang untuk operasi pencarian dan penyelamatan juga tiba di wilayah tersebut.
Satu skuadron jet tempur F-15E Strike Eagle juga baru-baru ini dikerahkan ke Timur Tengah. Pesawat ini dapat membawa berbagai bom berpemandu serta rudal permukaan-ke-udara.
Drone pengintai dan pengintai juga melayang di Selat Hormuz dan Teluk Persia. Sejak Senin, pesawat tersebut secara konsisten berpatroli di pangkalan AS di Qatar, Bahrain dan juga di luar Timur Tengah.
Varian pesawat pengintai RC-135V juga telah mendarat di area tersebut, mampu mendeteksi puing-puing radioaktif dan menafsirkan sinyal elektromagnetik.
(blq/asr)

