Jakarta, Pahami.id —
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan, wilayah Bandung dan sekitarnya saat ini sedang berada pada puncak musim hujan, dengan potensi hujan lebat diperkirakan akan terus berlanjut hingga sepekan ke depan.
Kepala BMKG Bandung Teguh Rahayu mengatakan situasi ini menjadi perhatian serius khususnya dalam mendukung proses pemindahan dan penanganan bencana tanah longsor di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.
Saat ini sedang puncak musim hujan dan diperkirakan hujan lebat akan terus terjadi hingga seminggu ke depan, kata Teguh di Bandung, Minggu (25/1), dikutip dari di antara.
Dikatakannya, prakiraan cuaca terus dipantau secara berkala dan menjadi acuan dalam melakukan evakuasi dan aktivitas personel di lapangan agar keselamatan tetap diutamakan.
Teguh menambahkan, pihaknya juga telah melakukan upaya mitigasi melalui modifikasi cuaca di Bandara Husein Sastranegara, sebagai langkah mengurangi intensitas hujan di wilayah terdampak.
“Kami telah melakukan modifikasi cuaca sebagai bagian dari upaya pengurangan risiko, khususnya di daerah rawan bencana,” ujarnya.
BMKG juga mengimbau masyarakat dan aparat untuk terus memperhatikan informasi cuaca terkini karena kondisi cuaca ekstrem berpotensi memicu lebih banyak bencana tanah longsor.
“Kami masih khawatir dengan kemungkinan terjadinya longsor lagi, karena tanah di beberapa wilayah sudah jenuh air akibat hujan terus menerus,” ujarnya.
Teguh menjelaskan durasi musim hujan di Jabar berbeda-beda antar wilayah. Namun secara umum, BMKG memperkirakan musim hujan akan berlangsung hingga akhir Maret atau awal April.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mendorong penguatan mitigasi bencana kepada aparat dan warga, sehingga proses evakuasi dan penanganan bisa lebih optimal saat kondisi cuaca relatif cerah.
Sementara itu, Polda Jabar mencatat, hingga pukul 17.00 WIB siang tadi, sudah ditemukan 25 kantong jenazah korban longsor.
Selain itu, hingga saat ini masih dalam pencarian korban longsor sebanyak 80 orang dengan lebih dari 30 unit rumah rusak dari total 34 KK dan jumlah pengungsi diperkirakan mencapai 300 hingga 400 jiwa akibat bencana tersebut.
(fra/antara/fra)

