Berita Bentrokan Pecah di Kolombia, 2 Geng Berebut Kendali Perdagangan Kokain

by
Berita Bentrokan Pecah di Kolombia, 2 Geng Berebut Kendali Perdagangan Kokain


Jakarta, Pahami.id

Sebanyak 52 pejuang gerilya tewas dalam pertempuran antara dua kelompok bersenjata di Kolumbia pada Kamis (28/5).

Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC) mengatakan pertempuran itu melibatkan dua kelompok bersenjata yang bersaing untuk menguasai wilayah produksi dan penyelundupan kokain.


Menteri Pertahanan Pedro Sanchez membenarkan bahwa pertempuran telah terjadi. Dia mengatakan, dia telah mengirim pasukan ke daerah pertempuran, untuk melindungi penduduk sipil.

Bentrokan juga terjadi menjelang pemilihan presiden pada Minggu (31/5), di mana warga Kolombia akan memilih penerus Presiden sayap kiri Gustavo Petro.

Dilansir Reuters, pertempuran terjadi antara faksi oposisi FARC yang dipimpin oleh Nestor Gregorio Vera atau lebih dikenal dengan Ivan Mordisco, dan faksi lain yang dipimpin oleh Alexander Diaz Mendoza alias Calarca Cordoba.

Pertempuran antara kedua suku tersebut terjadi di hutan provinsi Guaviare di tenggara Kolombia, dekat desa Barranco Colorado.

Mereka menolak perjanjian perdamaian tahun 2016 yang mengizinkan sekitar 13.000 anggota FARC untuk meletakkan senjata mereka.

Kelompok gerilya yang dipimpin Diaz Mendoza terlibat dalam pembicaraan damai dengan Presiden Kolombia Gustavo Petro. Namun, faksi pendukung Vera masih berkonflik dengan pihak berwenang, setelah pemerintah menunda gencatan senjata bilateral dengan faksi tersebut pada tahun 2024.

Pekan lalu, kelompok oposisi terbesar FARC, Staf Umum Pusat, mengumumkan penghentian operasi militer secara nasional terhadap pasukan keamanan negara tersebut antara 20 Mei dan 10 Juni.

Namun mereka tidak mengumumkan penghentian total seluruh aktivitas militer, yang berarti konfrontasi dengan kelompok bersenjata lainnya tidak termasuk dalam penangguhan operasi mereka.

Konflik bersenjata, yang telah berlangsung lebih dari enam dekade dan sebagian besar dibiayai oleh perdagangan narkoba dan penambangan ilegal, telah menyebabkan lebih dari 450.000 orang tewas dan jutaan orang mengungsi.

(Dna)


Menambahkan

sebagai pilihan
sumber di Google