Jakarta, Pahami.id —
Bolivia menghadapi ketegangan politik dan kerusuhan sosial di tengah protes sejak awal Mei.
Warga yang didukung Organisasi Serikat Buruh Bolivia ramai-ramai menyerukan agar Presiden Rodrigo Paz mundur, meski baru menjabat enam bulan.
“Tuntutannya adalah agar presiden mengundurkan diri karena ketidakmampuannya menyelesaikan masalah struktural negara; dia membiarkan kita terkatung-katung, dia menggadaikan negara ini,” kata pemimpin serikat pekerja Central Obrera Boliviana, Mario Argollo.
Dia kemudian berkata, “Masa depan apa yang menanti anak cucu kita.”
Belakangan ini, demonstrasi diwarnai dengan kerusuhan.
Awalnya, demonstrasi menuntut perbaikan kehidupan dan kesejahteraan masyarakat Bolivia, seperti peningkatan upah, penanganan bahan bakar minyak yang terkontaminasi yang menyebabkan kerusakan kendaraan, dan memprotes undang-undang yang hanya menguntungkan pedagang tanah.
Pemerintah kemudian berjanji untuk menghapus undang-undang pertanahan, menawarkan bonus keuangan kepada guru dan membayar kompensasi untuk kendaraan yang rusak.
Namun janji manis tersebut belum mampu memuaskan warga. Tuntutan mereka justru semakin luas dengan meminta Paz mundur dari kursi kekuasaannya.
Mengapa demikian?
Analis politik di Bolivia Luciana Jauregui mengatakan permasalahan di negara ini terlalu tajam dan mendalam: ketidakpuasan di kalangan warga kelas pekerja dan kelompok masyarakat adat.
“Rodrigo Paz menang dengan agenda yang sangat berbeda, dan dalam perjalanannya, dia melakukan perubahan politik dan strategis, baik dalam komposisi pemerintahannya maupun orientasinya,” kata Jauregui. Al JazeeraSabtu (23/5).
“Oleh karena itu, sektor kerakyatan tidak hanya merasa tersisih, tapi juga dikhianati,” tambahnya.
Paz berkuasa setelah memenangkan pemilihan umum 2025. Jauregui mengatakan dukungan pekerja dan masyarakat pedesaanlah yang memungkinkan dia memperoleh 55 persen suara dalam pemilu.
Paz menjadi presiden pertama Bolivia setelah era Gerakan Sosialisme (MAS) yang berkuasa selama hampir 20 tahun.
MAS memimpin negara dengan buruk dan korup. Mereka kemudian meninggalkan Bolivia dalam krisis ekonomi yang parah dan hanya memperoleh tiga persen suara pada pemilu tahun lalu.
Selama kampanye, Paz juga mengadopsi wacana moderat dan sentris, dan meraih kekuasaan berkat para mantan pemilih MAS.
Kini, enam bulan setelah menjabat sebagai presiden, para pemilih kecewa dan merasa terasing dari pemerintah.
Paz tidak menunjuk orang-orang dari komunitas adat atau individu dari kelas pekerja untuk menduduki kabinet atau posisi penting di pemerintahan.
Kelompok ini, yang telah memerintah bersama MAS selama dua dekade terakhir, kini memandang pemerintahan Paz bersekutu dengan elite bisnis dan memerintah demi kepentingan mereka.
Rasa frustrasi mereka bertambah ketika Paz mengambil kebijakan seperti penghapusan pajak atas kekayaan besar, termasuk anggota elit bisnis di kabinet, mengeluarkan undang-undang yang menguntungkan agrobisnis, dan bersekutu dengan Amerika Serikat dan Israel.
Di tengah protes, Presiden Bolivia periode 2006-2019 Evo Morales memobilisasi pendukungnya untuk melakukan pawai sejauh 190 kilometer (118 mil) menuju La Paz.
Morales sengaja melakukan hal tersebut untuk menuntut pengunduran diri presiden dan penangguhan proses peradilan terhadapnya.
Selain itu, Morales juga menghadapi surat perintah penangkapan dan dituduh melakukan pelecehan terhadap seorang gadis remaja selama masa kepresidenannya.
Ia juga merupakan presiden pribumi pertama di Bolivia, memerintah negara tersebut selama tiga periode berturut-turut, dan memperoleh dukungan elektoral yang belum pernah terjadi sebelumnya.
MA berkuasa hampir tanpa perlawanan, dan pemerintahannya ditandai dengan kebijakan inklusi sosial, pengakuan terhadap masyarakat adat, dan kemakmuran ekonomi, serta pengurangan kemiskinan secara signifikan.
Namun, dalam beberapa tahun Bolivia menghadapi kemerosotan ekonomi bertahap yang ditandai dengan menurunnya industri minyak dan gas, yang sebagian disebabkan oleh manajemen yang buruk, kekurangan dolar AS, dan meningkatnya inflasi.
Resesi ekonomi akhirnya menyebabkan MAS kehilangan kekuasaan di tengah perselisihan antara Morales dan penggantinya.
Sementara itu, Paz menuduh Moralez merencanakan sesuatu yang buruk dengan niat jahat dan ingin mengganggu stabilitas pemerintah.
“Perjuangan kami adalah melawan negara-negara yang menerima uang dari perdagangan narkoba dan menggunakan alat kekerasan untuk merebut kekuasaan dengan kekerasan,” kata Galvez pada konferensi pers.
Galvez mengatakan bagi pemerintah, konflik ini memiliki dua dimensi berbeda: tuntutan yang sah dan upaya yang semata-mata bertujuan untuk menggulingkan presiden.
“Kami akan bertindak dengan dua instrumen: dialog untuk sektor yang sah dan penegakan hukum penuh terhadap mereka yang menyerang demokrasi,” tambahnya.
Tanpa keterwakilan institusional, sektor sosial yang sebelumnya dipimpin oleh MAS kini berupaya mendapatkan kembali peran mereka dalam pengambilan keputusan politik.
(isa/bac)
Menambahkan

sebagai pilihan
sumber di Google

