Berita 1.500 Tahanan Politik Ajukan Amnesti Massal

by
Berita 1.500 Tahanan Politik Ajukan Amnesti Massal


Jakarta, Pahami.id

Sebanyak 1.557 tahanan politik telah secara resmi mengajukan permohonan pengampunan di bawah ini Konstitusi baru yang mulai berlaku minggu lalu.

Langkah ini menandai babak baru dinamika politik Venezuela menyusul penangkapan Nicolas Maduro oleh militer Amerika Serikat pada awal Januari lalu. Ketua Majelis Nasional Jorge Rodriguez membenarkan proses pembebasan tersebut dilakukan secara bertahap.

“Sebanyak 1.557 kasus sedang ditangani segera, dan ratusan orang yang dirampas kebebasannya telah dibebaskan berdasarkan undang-undang amnesti,” kata Rodriguez dalam konferensi pers, Sabtu (21/2), mengutip AFP.


Di ibu kota Caracas saja, sebanyak 80 tahanan menghirup udara bebas pada hari Sabtu. Sebelumnya, Jorge Arreaza, anggota parlemen yang mengawasi proses tersebut, menyatakan bahwa jaksa telah meminta pengadilan untuk membebaskan 379 tahanan lainnya.

Meskipun hal ini merupakan angin segar bagi para aktivis dan oposisi, amnesti ini tidak serta merta diberikan. Pemohon harus mengajukan permohonan resmi melalui pengadilan yang menangani kasusnya.

Presiden Sementara Venezuela, Delcy Rodriguez menyebut undang-undang ini merupakan terobosan menuju negara yang lebih demokratis dan adil. Namun aturan ini tetap memiliki batasan ketat.

Pertama, Amnesti tidak berlaku bagi individu yang terlibat dalam ‘mempromosikan’ atau ‘memfasilitasi’ aksi bersenjata pihak asing yang mengancam kedaulatan negara.

Kedua, amnesti juga tidak berlaku bagi anggota aparat keamanan yang terbukti melakukan tindakan terkait terorisme.

Pengecualian ini menuai kritik dari tokoh oposisi. Mereka meyakini klausul tersebut sengaja disisipkan untuk terus menyasar tokoh seperti Maria Corina Machado, peraih Nobel Perdamaian yang saat ini berada di Amerika Serikat.

Harapan di balik jeruji besi

Adegan emosional terlihat di luar fasilitas polisi ‘Zona 7’ di Caracas. Kerabat para tahanan yang telah berada di kamp selama berminggu-minggu menunggu dengan cemas.

Beberapa perempuan bahkan melakukan mogok makan selama lima hari untuk mendesak agar undang-undang ini disahkan.

“Mudah-mudahan ini benar,” kata Genesis Rojas, kerabat tahanan.

Di sisi lain, nada marah masih terasa. Yessy Orozco yang ayahnya mengurung diri di Zona 7 menyatakan pemerintah harus meminta maaf atas pelanggaran HAM yang terjadi selama ini. “Mereka telah menculik dan merampok kami,” katanya.

Eksodus tahanan politik terjadi setelah jatuhnya Nicolas Maduro, yang memimpin Venezuela sejak 2013. Maduro, kini berusia 63 tahun, berada dalam tahanan AS bersama istrinya setelah serangan militer pada 3 Januari 2026.

Maduro dituduh melakukan perdagangan narkoba, namun ia menyangkalnya dan mengklaim dirinya adalah ‘tawanan perang’.

Di bawah kepemimpinan sementara Delcy Rodriguez, Venezuela kini menuntut reformasi hukum, termasuk mencabut status tahanan rumah terhadap 11.000 orang agar mereka dapat menikmati kebebasan penuh.

(sels/sel)