Penghuni Rusunawa Pucang, Sidoarjo, mengeluhkan kondisi fasilitas rusun yang dinilai sudah tidak layak hingga gangguan asap dan bau dari aktivitas pabrik di sekitar lokasi. Warga menyebut asap tersebut masuk ke area rusunawa dan mengganggu pernapasan penghuni, termasuk anak-anak.
Salah satu penghuni Rusunawa Pucang, Demi (32), warga Blok C lantai 2, mengatakan asap yang dirasakan warga diduga berasal dari aktivitas pabrik di sekitar rusunawa. Menurutnya, asap tersebut terasa pahit ketika terhirup dan membuat tenggorokan tidak nyaman.
Asapnya terasa pahit, tenggorokan juga terasa terganggu. Kalau masuk ke rusun, mata terasa perih dan ada yang sampai sesak napas, kata Demi kepada wartawan di lokasi, Senin (10/8/2026).
Demi mengatakan, warga menduga asap dibuang dari bagian bawah sehingga ketika terbawa angin masuk ke lingkungan rusunawa. Warga berharap pembuangan asap dilakukan melalui cerobong yang lebih tinggi agar tidak langsung masuk ke permukiman. Warga, lanjut Demi, sebenarnya tidak mempermasalahkan keberadaan pabrik. Mereka hanya meminta aktivitas pabrik tidak mengganggu kesehatan penghuni rusunawa.
Kalau pabrik tetap beroperasi tidak masalah. Kami hanya minta asapnya jangan dibuang dari bawah, kalau bisa lewat cerobong atas supaya tidak masuk ke rusun, ujarnya.
Demi juga menyebut ada warga yang mengalami sesak napas cukup berat hingga harus mendapatkan perawatan di rumah sakit dan membutuhkan bantuan oksigen. Ia menduga gangguan serupa juga dirasakan sejumlah anak penghuni rusunawa, meski belum seluruhnya dilaporkan.
Selain persoalan asap, warga mengeluhkan kondisi sanitasi rusunawa. Sejumlah saluran air atau got disebut tersumbat sehingga alirannya tidak lancar dan berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Menurut Demi, terdapat warga yang terkena demam berdarah dengue (DBD). Salah satu kasus bahkan disebut cukup serius hingga pasien harus menjalani perawatan di ICU selama lebih dari sepekan.
Kalau saluran got banyak yang tersumbat, air tidak lancar. Nyamuk juga banyak. Ada yang kena DBD sampai masuk ICU. Sementara itu pasokan air bersih dari PDAM hingga kini masih berjalan dengan baik, terang Demi.
Keluhan warga tersebut mendapat perhatian Wakil Bupati Sidoarjo Mimik Idayana. Saat melakukan inspeksi mendadak (sidak), Mimik menemukan sejumlah persoalan di Rusunawa Pucang, mulai dari kondisi bangunan, kebersihan, hingga fasilitas pendukung. Mimik menyebut kondisi gedung sudah membutuhkan pembenahan. Sejumlah bagian bangunan mengalami kebocoran dan belum mendapatkan perbaikan secara menyeluruh.
Persoalan kebersihan juga menjadi perhatian. Tiga gedung dengan lima lantai disebut hanya ditangani dua petugas kebersihan. Jumlah tersebut belum termasuk area halaman sehingga kebersihan lingkungan dinilai belum maksimal.
Ini harus menjadi perhatian. Penghuni sudah membayar sewa setiap bulan, sehingga pemerintah juga harus memenuhi hak mereka melalui pelayanan dan perawatan yang layak, kata Mimik.
Rusunawa tersebut dihuni sekitar 200 jiwa dengan 97 kamar. Tingkat hunian disebut mencapai sekitar 85 persen. Besaran sewa berbeda berdasarkan lantai, dengan tarif lantai bawah mencapai sekitar Rp 545 ribu per bulan yang sudah termasuk listrik dan air.
Mimik juga menyoroti pengelolaan pendapatan dari sewa rusunawa. Hingga Juni, pendapatan disebut telah terkumpul sekitar Rp 7,3 miliar, namun pemanfaatannya baru sekitar 40-45 persen. Menurutnya, dana yang berasal dari sewa tersebut semestinya dapat dimanfaatkan secara optimal untuk pemeliharaan dan perbaikan rusunawa.
Kami akan rapatkan dengan Perkim, BPKAD, Bapeda dan instansi terkait. Jangan hanya rapat di kantor, harus turun langsung melihat kondisi di lapangan, tegas Mimik.
Mimik meminta sejumlah fasilitas segera menjadi prioritas perbaikan, antara lain kebersihan, penerangan, keamanan, CCTV, serta kebocoran bangunan. Selain kondisi bangunan, Mimik juga menyoroti keluhan warga mengenai asap dari pabrik yang berada di sekitar rusunawa. Ia mengatakan pemerintah daerah akan berkoordinasi dan meninjau langsung aktivitas pabrik untuk memastikan sumber asap yang dikeluhkan warga.
Asap pabrik ini juga harus kita cek. Kita akan koordinasikan dan meninjau langsung pabrik sebelah untuk melihat bagaimana pembuangan asapnya, ujar Mimik.
Sementara itu, pihak PT Sekar Laut yang berada di sekitar lokasi memberikan tanggapan atas keluhan tersebut. HRD PT Sekar Laut, Haryanto, mengatakan perusahaan tidak menolak keluhan warga dan siap melakukan pengecekan bersama. Haryanto mengatakan sumber keluhan harus diverifikasi terlebih dahulu. Sebab, menurutnya, beberapa keluhan sebelumnya setelah dicek ternyata tidak berasal dari aktivitas perusahaan.
Untuk keluhan warga, nanti kami lakukan pengecekan rutin bersama warga. Kami ingin memastikan sumbernya dari mana, kata Haryanto.
Ia mencontohkan keluhan kebisingan yang terjadi tahun lalu. Setelah dilakukan pengecekan, suara tersebut disebut berasal dari aktivitas pengelasan atau pemotongan di lingkungan rusunawa, bukan dari pabrik. Terkait keluhan limbah di Sungai Afur, Haryanto juga meminta dilakukan pengecekan bersama. Menurutnya, aliran sungai tersebut menerima aliran dari wilayah hulu hingga hilir sehingga belum bisa dipastikan sumber limbah yang dikeluhkan berasal dari PT Sekar Laut.
Nanti akan kami koordinasikan dengan DLH untuk pengecekan di lapangan, ujarnya.
Haryanto menjelaskan PT Sekar Laut memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Proses pengolahan tersebut melalui sejumlah tahapan, mulai dari pengendapan, ekualisasi hingga aerasi menggunakan diffuser untuk menambah oksigen. Menurutnya, pengecekan dilakukan setiap bulan dan hasilnya dilaporkan kepada DLH. DLH juga disebut melakukan peninjauan secara berkala.
Mengenai asap, Haryanto menjelaskan perusahaan menggunakan dua jenis bahan bakar, yakni gas dan batu bara. Menurutnya, pembakaran menggunakan gas menghasilkan asap yang lebih minimal. Namun ketika pasokan gas mengalami gangguan, perusahaan menggunakan batu bara sebagai bahan bakar alternatif.
Kalau gas pembakarannya lebih bersih, asapnya minimal atau tidak terlihat. Batu bara digunakan ketika pasokan gas terganggu, jelasnya.
Haryanto mengakui penggunaan batu bara tersebut berpotensi menjadi sumber keluhan asap dan bau yang dirasakan warga.
Memang kemungkinan dari penggunaan batu bara itu yang kemudian menimbulkan keluhan warga seperti sesak napas, batuk dan gangguan pernapasan. Ini yang akan kami periksa lebih lanjut, katanya.
Untuk memastikan kondisi kualitas udara, perusahaan juga akan melakukan pengecekan udara ambien. Hasil pengukuran tersebut nantinya akan dilaporkan dan diverifikasi berdasarkan standar baku mutu udara.
Kami tidak menolak keluhan warga. Kami siap melakukan verifikasi bersama warga dan DLH. Data hasil pengecekan udara ambien juga akan kami sampaikan sebagai bentuk transparansi, pungkas Haryanto.
