Empat Teknologi Karya Insinyur dan Lembaga Indonesia yang Diadopsi Dunia

oleh
Empat Teknologi Karya Insinyur dan Lembaga Indonesia yang Diadopsi Dunia

Indonesia memiliki sejumlah teknologi yang tak hanya digunakan di dalam negeri, tetapi juga telah merambah berbagai negara. Sejumlah inovasi seperti teknik konstruksi jalan layang, pesawat terbang, sistem peringatan dini tsunami, hingga sistem pembayaran digital yang lahir di Indonesia ternyata telah banyak dimanfaatkan di luar negeri.

Teknologi Landasan Putar Bebas Hambatan (LPBH) atau Sosrobahu merupakan inovasi konstruksi yang ditemukan insinyur Indonesia Tjokorda Raka Sukawati. Teknik ini memungkinkan pembangunan bagian kepala tiang atau pier head jalan layang dilakukan tanpa terlalu mengganggu lalu lintas di bawahnya.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mencatat teknologi Sosrobahu tidak hanya digunakan di Indonesia, tetapi juga telah diterapkan di sejumlah negara lain seperti Filipina, Thailand, Malaysia, dan Singapura. Di Filipina, teknologi Sosrobahu bahkan digunakan dalam pembangunan salah satu jalan layang panjang di negara tersebut.

Indonesia juga memiliki CN235, pesawat yang hingga kini diproduksi PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan telah digunakan berbagai negara. CN235 pada awalnya merupakan hasil pengembangan bersama Industri Pesawat Terbang Nurtanio atau IPTN, yang kini menjadi PTDI, dengan perusahaan Spanyol CASA, yang kini menjadi bagian Airbus Defence and Space.

Kedua perusahaan membentuk perusahaan patungan Aircraft Technology atau Airtech pada 17 Oktober 1979 untuk merancang CN235, dan pengembangan bersama dimulai pada 1980. Prototipe buatan CASA bernama “Elena” melakukan penerbangan perdana pada 11 November 1983, sementara prototipe buatan IPTN yang diberi nama “Tetuko” terbang untuk pertama kalinya pada Desember tahun yang sama.

Produksi serial CN235 kemudian dimulai pada 1986, di mana IPTN atau PTDI mengembangkan varian 110 dan 220, sedangkan CASA mengembangkan versi 200 dan 300. Kini, PTDI menjadi satu-satunya perusahaan yang memproduksi CN235.

PTDI mencatat CN235-220 telah beroperasi di Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Korea Selatan, Uni Emirat Arab, Burkina Faso, Pakistan, Senegal, dan Nepal. Pesawat tersebut digunakan dalam beragam konfigurasi, termasuk transportasi militer dan patroli maritim, karena memang dirancang sebagai pesawat multiguna.

Selain itu, Indonesia Tsunami Early Warning System atau InaTEWS merupakan sistem peringatan dini tsunami yang dioperasikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Sistem tersebut tak hanya menjadi bagian penting mitigasi tsunami di Indonesia, tetapi juga sejumlah negara.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjalankan peran sebagai Tsunami Service Provider (TSP) untuk kawasan Samudra Hindia bersama Australia dan India. Dalam peran tersebut, BMKG menyediakan informasi peringatan dini tsunami bagi 28 negara sebagai bagian dari kerja sama regional.

BMKG menyebut sistemnya mampu merilis parameter gempa dalam waktu sekitar 30 hingga 60 detik, sedangkan peringatan dini tsunami dapat dikeluarkan dalam waktu kurang dari tiga menit. Hal ini menjadikan sistem peringatan dini yang dioperasikan Indonesia sebagai salah satu sumber informasi bagi negara-negara di kawasan Samudra Hindia.

Teknologi buatan Indonesia lainnya yang belakangan semakin terasa kehadirannya di luar negeri adalah Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS. QRIS dikembangkan Bank Indonesia bersama industri sistem pembayaran untuk membuat transaksi menggunakan kode QR lebih mudah dan terstandardisasi.

Melalui QRIS Antarnegara, wisatawan Indonesia dapat menggunakan aplikasi pembayaran domestik untuk bertransaksi di negara mitra, dan sebaliknya. Bank Indonesia mencatat QRIS Antarnegara saat ini telah digunakan untuk transaksi yang terhubung dengan Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan China.