Trump Pakai Minyak Venezuela untuk Isi Cadangan Strategis AS yang Menipis

oleh
Trump Pakai Minyak Venezuela untuk Isi Cadangan Strategis AS yang Menipis

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berencana mengisi kembali cadangan minyak strategis AS atau Strategic Petroleum Reserve (SPR) menggunakan pasokan minyak dari Venezuela berdasarkan kesepakatan terbaru antar-kedua negara.

Rencana Pengisian Cadangan Minyak Strategis AS

Selain itu, Donald Trump mengatakan bahwa proses pengisian kembali cadangan minyak tersebut akan segera dimulai dalam waktu dekat. Ia bahkan menyebut minyak Venezuela sebagai hadiah bagi rakyat Amerika.

“Proses pengisian kembali akan segera dimulai,” ujar Trump melalui unggahan di media sosial Truth Social pada hari Minggu (30/8).

Di sisi lain, berdasarkan data per 21 Agustus, cadangan minyak strategis AS berada di kisaran 290 juta barel. Jumlah tersebut mendekati level terendah dalam kurun waktu 44 tahun terakhir.

Tak hanya itu, kantor berita Reuters melaporkan bahwa cadangan minyak strategis AS telah terkuras cukup tajam dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah AS melakukan pelepasan stok tersebut demi merespons berbagai gangguan pasokan global serta kenaikan harga bahan bakar.

Target dan Detail Kesepakatan Minyak Venezuela

Sebagai dampaknya, rencana Trump menggunakan minyak Venezuela menjadi bagian dari upaya AS untuk kembali memperkuat cadangan strategisnya. Sebelumnya, Presiden interim Venezuela Delcy Rodriguez menyampaikan bahwa kesepakatan minyak yang dicapai dengan AS berlaku selama 25 tahun.

Selain hal tersebut, Venezuela menargetkan produksi minyak harian dapat melampaui 1,5 juta barel. Rodriguez menyebut kesepakatan itu sebagai perjanjian ‘bersejarah’ yang diharapkan mampu menjadi motor pemulihan ekonomi Venezuela.

Pemerintah Venezuela menargetkan produksi minyak nasional meningkat secara signifikan melalui kerja sama ini. Di samping itu, ia menyatakan keinginan untuk memperluas kesepakatan serupa dengan sejumlah perusahaan energi besar dunia.

“Tujuan kami adalah melangkah lebih jauh dengan penandatanganan kesepakatan besar lainnya yang melibatkan perusahaan raksasa seperti Chevron, Repsol, Eni, Shell, dan BP. Kami ingin menjadi kekuatan energi,” jelas Rodriguez, dilansir Anadolu Agency.

Lebih dari itu, ia menambahkan bahwa secara konkret sekitar 19 dolar AS dari setiap barel yang diproduksi dan dijual akan langsung masuk ke kas negara.

Dengan asumsi harga minyak sebesar 65 dolar AS per barel, Rodriguez memperkirakan negara itu mampu menghasilkan pendapatan hingga 209,335 miliar dolar AS dari proyek tersebut.