Jakarta, Pahami.id —
Presiden Donald Trump membantahnya Amerika Serikat dipaksa oleh Israel untuk menyerang Iran.
Trump juga membantah tindakan AS dilatarbelakangi oleh rencana Israel untuk melenyapkan Iran.
“Tidak. Mungkin saya yang memaksanya,” kata Trump kepada awak media, Rabu (4/3), dikutip Penjaga.
“Kami sedang bernegosiasi dengan orang-orang gila ini, dan saya pikir mereka akan menyerang terlebih dahulu. Mereka akan menyerang. Jika tidak, mereka akan menyerang terlebih dahulu. Saya sangat yakin akan hal itu,” tambahnya.
Komentar Trump muncul setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan AS harus menyerang terlebih dahulu agar tidak diserang oleh Iran. Mereka tahu bahwa Iran akan membalas dan menargetkan aset-aset AS jika Israel menyerang mereka.
“Dan kita tahu, jika kita tidak menyerang mereka terlebih dahulu sebelum mereka melancarkan serangan, maka kita akan mendapat korban yang lebih besar,” ujarnya.
Rubio mengatakan meskipun AS dan Israel lebih dulu menyerang Iran, Washington bertindak untuk menggagalkan ancaman langsung terhadap mereka.
Dia kemudian menekankan bahwa serangan terhadap Iran harus terjadi karena Teheran menimbun rudal dan drone yang akan digunakan untuk melindungi program nuklirnya dan memperoleh bom nuklir.
“Dan ancaman sebenarnya adalah kita tahu bahwa jika Iran diserang – dan kami yakin mereka akan diserang – mereka akan segera menyerang kita,” tambah Rubio.
Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran pada 28 Februari, setelah perundingan nuklir putaran ketiga yang diadakan di Jenewa berakhir tanpa kesepakatan.
Iran kemudian membalas serangan tersebut dengan menargetkan aset-aset yang terkait dengan AS di negara-negara Teluk, seperti Bahrain, Uni Emirat Arab, Qatar, Arab Saudi, dan Kuwait.
Serangan gabungan ini mengakibatkan Iran menutup Selat Hormuz yang merupakan jalur vital pengiriman komoditas dan minyak global.
Korps elit IRGC Iran menyatakan akan membakar semua kapal yang melewati perairan tersebut.
(isa/dna)

