Berita TGKH M Zainuddin Abdul Madjid: Bapak Pembangun Banyak Madrasah-Masjid

by
Berita TGKH M Zainuddin Abdul Madjid: Bapak Pembangun Banyak Madrasah-Masjid


Jakarta, Pahami.id

Tuan Guru Kiai Haji (TGKH) Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dikenal sebagai ‘Matahari Timur’ yang memajukan pendidikan Islam di Nusa Tenggara Barat (NTB). Tak hanya seorang ulama, ia juga merupakan pejuang kemerdekaan Indonesia.

Ia kemudian diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia dinyatakan pada tanggal 9 November 2017 melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 115/TK/Tahun 2017.

Nama awalnya adalah Muhammad Saggaf. Namanya diubah menjadi yang dikenal saat ini karena ayahnya terinspirasi oleh seorang ulama yang kharismatik dan berbudi luhur, Muhammad Zainuddin Sarawak.


Zainuddin merupakan anak bungsu dari 6 bersaudara. Dia memiliki dua istri, masing-masing memiliki seorang putri.

Mengutip dari sebuah buku Biografi Tokoh : Tuan Guru Kiai Haji (TGKH) Muhammad Zainuddin Abdul Madjid yang dikeluarkan oleh Kantor Bahasa Kemendikbud NTB, perjalanan pendidikannya dimulai saat ia bersekolah di Sekolah Rakyat Negeri (Sekolah Pemerintah) selama empat tahun.

Setelah itu, ayah Zainuddin memberikannya untuk belajar kepada beberapa guru, antara lain TGKH Syarafuddin, TGKH Muhammad Sa’id, dan TGKH Haji Abdullah. Dari guru-guru tersebut, Zainuddin belajar ilmu agama dengan menggunakan kitab-kitab Melayu dan Arab.

Kemudian Zainuddin melanjutkan studinya di tanah suci Mekkah pada usia 15 tahun. Ia bersekolah di Madrasah Asshaulatiah, sekolah yang melahirkan ribuan ulama di Kerajaan Arab Saudi. Ia berhasil menyelesaikan studinya hanya dalam waktu 6 tahun, bukan 9 tahun biasanya.

Sepulang dari Mekkah, Zainuddin kemudian kembali ke Lombok, mendirikan Pondok Pesantren Al-Mujahidin.

Tiga tahun kemudian, ia mendirikan Nadhlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI), sebuah madrasah khusus laki-laki pada tahun 1937.

Pada tahun 1943, ia mendirikan Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI), yang kali ini merupakan madrasah khusus perempuan.

Kedua madrasah ini merupakan yang pertama di Pulau Lombok.

Mahasiswa yang telah menempuh pendidikan di NWDI dan NBDI kemudian dikirim ke seluruh pelosok nusantara. Maka didirikanlah madrasah termasuk masjid di bawah naungan Zainuddin di seluruh pelosok Indonesia.

Karena bertambahnya jumlah madrasah, Zainuddin mendirikan organisasi yang mengawasinya dengan nama Nahdlatul Wathan (NW) pada tahun 1953.

Oleh karena itu, ia dikenal dengan nama panggilannya Abu Madaris Wal Masajid yang artinya ‘Bapak, Pembangun Banyak Madrasah dan Masjid’.

Selain berperan dalam bidang pendidikan bagi masyarakat Sasak atau Muslim Nahdlatul Wathan, beliau juga mempunyai peran besar bagi bangsa Indonesia pada masa penjajahan.

Pada tahun 1945, ia menjadi pionir kemerdekaan Indonesia di Nusa Tenggara, khususnya Lombok. Kemudian pada tahun 1946 menjadi pionir penyerangan pasukan NICA di Selong Lombok Timur.

NWDI dan NBDI juga dijadikan sebagai pusat pelatihan para patriot nasional agar siap melawan dan mengusir penjajah Jepang dan Belanda.

Setelah proklamasi kemerdekaan, Zainuddin juga menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia hasil Pemilu Pertama tahun 1955. Ia juga menjadi peserta KIAA (Konferensi Islam Asia Afrika) di Bandung.

Di bidang politik, ia juga merasakan peran legislatif pada tahun 1972-1982 sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Indonesia.

Zainuddin Abdul meninggal dunia pada usia 99 tahun. Ia meninggal di kompleks Pondok Pesantren Hamzanwadi Nahdlatul Wathan di Desa Pancor, Lombok Timur.

Artikel ini merupakan rangkaian kisah para cendekiawan, tokoh dan ulama yang menjadi Pahlawan Nasional Indonesia yang dimuat CNNIndonesia.com pada Ramadhan 1447 Hijriah.

(keluarga/anak-anak)