Jakarta, Pahami.id —
Presiden Republik Indonesia Prabu Subianto mengundang sejumlah pejabat ke Istana Kepresidenan Jakarta pada Rabu (4/2).
Prabowo mengundang beberapa mantan menteri luar negeri, wakil menteri luar negeri, dan akademisi yang berspesialisasi dalam hubungan internasional.
Salah satu pembahasan dalam pertemuan tersebut adalah mengenai keputusan Indonesia bergabung dalam Dewan Perdamaian yang dipimpin oleh Presiden AS Donald Trump.
Mantan Menteri Luar Negeri 2001-2009 Hasan Wirajuda mengatakan, Prabowo menjelaskan secara detail keputusannya bergabung dengan BoP.
Dia mengatakan, pertimbangan Prabowo bergabung dengan BoP setelah melalui dua rangkaian konsultasi antar negara Islam.
“Pertama di New York di luar pertemuan Majelis Umum PBB pada akhir tahun lalu, dan juga ketika akhirnya kami memutuskan untuk bergabung, kami juga melalui proses konsultasi yang erat dengan tujuh negara Muslim atau negara-negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam,” kata Hasan usai pertemuan.
“Memang ada kekhawatiran Trump akan memainkan peran yang tidak biasa dan tidak terkendali, tapi setidaknya delapan negara ini bisa menyeimbangkan proses di Dewan Perdamaian,” tambahnya.
Kemudian mantan Menteri Luar Negeri Gus Dur, Alwi Shihab, menyatakan bahwa Prabowo menegaskan Indonesia tidak akan meninggalkan komitmen perjuangan Palestina dan tetap menginginkan solusi dua negara.
“Itu dalam istilah awam ‘harga mati’, solusi dua negara. Jadi tidak perlu mendengarkan Netanyahu yang mengatakan tidak akan menyetujui solusi dua negara,” kata Alwi.
Ditegaskannya, dalam pertemuan tersebut, Prabowo menegaskan komitmennya untuk siap keluar dari BoP jika tidak sejalan dengan cita-cita Indonesia.
Maka beliau menegaskan kepada seluruh masyarakat bahwa partisipasi Indonesia tidak lebih dari komitmen membela Palestina dan menginginkan solusi yang adil bagi Palestina, kata Alwi.
Pendiri CSIS, Jusuf Wanandi, mengatakan penjelasan Prabowo dalam pertemuan itu sangat mendalam.
Sementara itu, pendiri FPCI Dino Patti Djalal menilai Prabowo realistis membawa Indonesia ke Dewan Perdamaian.
“Realistis dalam arti apa? Saat ini satu-satunya pilihan yang ada di meja adalah Dewan Perdamaian. Tidak ada pilihan lain, dan faktanya BOP ini adalah bagian dari solusi untuk mengakhiri gencatan senjata, meski masih dilanggar oleh Israel,” ujarnya.
Ia mengatakan diskusi yang berlangsung siang hingga malam itu berlangsung terbuka.
Dino juga mengatakan, Prabowo menerima segala pendapat yang disampaikan tokoh-tokoh yang datang hari ini.
“Jadi saya bilang ini eksperimen dan eksperimen penting, untuk apa? Ini satu-satunya permainan yang ada saat ini. Tidak ada formula lain, tidak ada solusi lain, tidak ada jalan lain,” ujarnya.
Ia mengatakan, diskusi tersebut juga membahas banyak risiko dan skenario yang berpotensi membahayakan Indonesia.
“Tapi intinya ini adalah eksperimen, dan bukan obat untuk semua penyakit. Dan saya melihat dia realistis dalam hal ini. Dia melihat ada risikonya,” ujarnya.
(mnf/rds)

