Berita Pramono Minta Pelajar Lempar Air Keras di Jakpus Ditindak Tegas

by
Berita Pramono Minta Pelajar Lempar Air Keras di Jakpus Ditindak Tegas


Jakarta, Pahami.id

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan tidak ada toleransi terhadap tindakan kekerasan dalam hal pelemparan air keras melibatkan tiga siswa.

Tidak Ada kompromi untuk itu,” kata Pramono di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (10/2) pagi.

Pramono mengatakan, tindakan tersebut merupakan bentuk kekerasan dan meminta pelakunya ditindak tegas.


“Siapapun yang melakukan tindakan tersebut, itu bentuk kekerasan, saya minta tindakan tegas harus diambil,” ujarnya.

Sebelumnya, sebuah video yang memperlihatkan aksi diduga menyiramkan air keras ke seorang pelajar viral di media sosial.

Peristiwa itu terjadi di Jalan Cempaka Raya, Cempaka Putih Barat, Jakarta Pusat, pada Jumat (6/2) sekitar pukul 16.00 WIB.

Berdasarkan rekaman yang beredar dan dilihat pada Minggu (8/2), terlihat tiga siswa berseragam sekolah mengendarai sepeda motor.

Mereka bertiga berhenti di pinggir jalan sebelum melanjutkan perjalanan.

Polisi mengungkap, para pelajar yang menuangkan air keras itu mengaku memilih korbannya secara asal-asalan.

“(Mereka) tidak (saling kenal). Jadi keterangannya asal-asalan saja,” kata Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Heri Saputra kepada wartawan, Senin (9/2).

Roby mengatakan, menurut pengakuan pelaku, penyiraman dilakukan secara spontan karena takut diserang terlebih dahulu.

“Itu mereka Lihat anak-anak dari sekolah lain di seberang jalan, silakan saja jika itu alasannya. Biasanya kalau takut banget diserang, serang dulu. Artinya, mereka berperilaku agresif terlebih dahulu. “Korbannya acak-acakan,” katanya.

Namun, kata Roby, pihaknya masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Dia menambahkan, pelaku masih diperiksa intensif oleh penyidik ​​Unit Reskrim PPA Polres Metro Jakarta Pusat.

“Hasil pemeriksaannya belum lengkap, kalau cukup bukti, cukup dua bukti permulaan, kemungkinan masih kita tahan, tapi ini perlengkapannya lebih banyak, alat bukti pendahuluannya lebih dulu,” kata Roby.

(nat/isn)