Jakarta, Pahami.id —
Presiden Prabu Subianto bertemu dengan sejumlah mantan Menteri dan Wakil Menteri Luar Negeri RI, akademisi bidang hubungan internasional, dan pimpinan Komisi I DPR RI di Istana Merdeka, Rabu (4/2).
Pertemuan tersebut diunggah di akun Instagram @sekretariat.kabinet.
“[Pertemuan itu] dalam rangka pembahasan situasi politik luar negeri Indonesia,” kata Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dalam postingan tersebut.
Dalam pertemuan tersebut hadir mantan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Alwi Shihab, Marty Natalegawa, dan Hassan Wirajuda. Tampak pula mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal.
Dalam foto yang diunggah, tampak juga pengamat hubungan internasional Teuku Rezasyah dari Universitas Padjadjaran dan tokoh diplomatik senior Jusuf Wanandi.
Dalam pertemuan tersebut dibahas beberapa topik yaitu keanggotaan Indonesia dalam organisasi BRICS dan organisasi bentukan Amerika Serikat untuk menyelesaikan konflik di Jalur Gaza yaitu Peace Council.
Teddy juga mengatakan, dalam pertemuan tersebut, Prabowo memberikan sejumlah penjelasan, menjawab pertanyaan, dan mendengarkan masukan dari mereka yang hadir.
Teddy menjelaskan, kata Prabowo, setiap diplomasi luar negeri yang dilakukan selalu mengedepankan prestasi konkrit bagi bangsa Indonesia.
Beberapa hal penting yang dicapai Indonesia dalam setahun terakhir antara lain bergabung dengan BRICS, menetapkan tarif perdagangan 0 persen di 27 negara Uni Eropa, menyetujui pengembangan desa haji, dan bergabung dengan Dewan Perdamaian.
Mengenai Dewan Perdamaian: Keanggotaannya tidak permanen. Indonesia bisa sewaktu-waktu menarik diri dari keanggotaan, kata Teddy.
Keputusan Indonesia untuk bergabung dengan BoP menuai kritik tajam dari para ahli mengenai prinsip-prinsip kebijakan luar negeri Indonesia dan tujuan organisasi serta biaya keanggotaan.
Tentang biaya US$ 1 miliar atau sekitar Rp. 17 triliun, kata Teddy, itu dana rekonstruksi Gaza, dan tidak wajib.
Sumbangan bersifat sukarela. Artinya negara anggota bisa membayar atau tidak. Jika membayar maka akan menjadi anggota tetap dan jika tidak membayar maka keanggotaan akan berlaku selama 3 tahun.
“Untuk saat ini Indonesia belum membayar,” kata Teddy.
Keikutsertaan Indonesia dalam BoP, lanjutnya, merupakan langkah konkrit untuk meredam perang di Palestina secara langsung, dan tidak sebatas keikutsertaan dalam konferensi, pertemuan, diskusi atau pertemuan resmi.
(isa/rds)

